Kabupaten Gunungkidul

Daerah Istimewa Yogyakarta



Dilihat  1.097       Komentar  0
23 Agustus 2019 08:39:43

Nelayan Hutang ke Tengkulak, Harga Ikan Dipermainkan




Nelayan pantai sadeng saat sebelum melaut, Kamis (22/8/2019)
TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Terjerat hutang dengan tengkulak, Nelayan Pelabuhan Sadeng, Songbanyu, Girisubo tidak bisa tentukan sendiri harga jual ikan yang didapat dari hasil melaut.

Nelayan harus berhutang dengan tengkulak lantaran nelayan tidak memiliki modal yang mencukupi untuk melaut, sehingga mereka harus berhutang terlebih dahulu dengan para tengkulak.

Mau tidak mau nelayan harus menjual ke para tengkulak.

Sutoyo, satu diantara nelayan mengungkapkan jika nelayan sulit untuk memenuhi biaya operasional untuk melaut.

Ia juga mencontohkan untuk kapal 10 GT bisa menghabiskan behan bakar sebanyak 12 jeriken.

"Kami harus menempuh sejauh 150 mil untuk melaut karena ikan di daerah sini sudah habis. Untuk menutupinya kami harus bekerja ekstra agar mendapatkan tangkapan banyak," katanya, Kamis, (22/8/2019).

Ia menyampaikan nelayan sekali melaut bisa memakan waktu hingga 10 hari.

Jika dalam 10 hari tersebut hanya mendapatkan ikan sebanyak ikan 1 ton para nelayan tidak akan mendapat apa-apa.

"Kami para nelayan berharap ada solusi untuk mengatasi masalah ini agar tidak sangat tergantung dengan para tengkulak. Karena jika tergantung dengan tengkulak para nelayan hanya bisa menurut saja," ungkapnya.

Sutoyo mengatakan harga jual ikan yang dipatok cenderung turun.

Ia menyontohkan beberapa tahun lalu ikan cakalang dengan kualitas bagus bisa dijual seharga Rp 13 ribu sedangkan saat ini hanya seharga Rp 11 ribu per kilogramnya.

Sementara itu Sunardi, nelayan pantai sadeng juga mengeluhkan hal yang sama.

Nelayan tidak memiliki modal yang cukup untuk menutup biaya operasional sehingga harus berhutang dengan para tengkulak, sehingga harga ikan dipermainkan tengkulak.

"Di pasaran harga ikan cakalang mencapai Rp25.000 per kilogram. Sedangkan saat turun dari kapal, tengkulak hanya membeli dengan harga Rp11.000 per kilonya," keluhnya.

Sunardi menambahkan harga bisa turun lagi jika ikan yang didapat dalam kondisi rusak seperti pecah pada bagian perut bisa turun hingga Rp 6 ribu perkilogramnya.

"Yang untung bukan nelayan tetapi tengkulak, karena nelayan tidak bisa menentukan harga sendiri," tutupnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Layanan


MARI BERGERAK BERSAMA CEGAH PENYEBARAN COVID-19,

Gunakan masker - Cuci Tangan Dengan Sabun Dan Air Mengalir - Lakukan Physical Distancing