Turunkan Prevalensi Stunting Pemkab Gunungkidul Deklarasikan Rembug GARDU CENTINI

Gunungkidul – Kabupaten Gunungkidul angka prevalensi stunting mencapai 15,75 %.
Melihat tingginya angka stunting, penangan masalah gizi terutama masalah stunting harus di mulai sejak dini dan dalam upaya pencegahan diperlukan kegiatan secara terintegrasi, dan dilaksanakan secara lebih spesifik. Hal tersebut menjadi satu alasan pemerintah kabupaten Gunungkidul terus berkomitmen dan berupaya menurunkan angka stunting.
Melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menggandeng seluruh stake holder mengadakan deklarasi penanganan stunting melalui Gunungkidul Terpadu Cegah Stunting Sejak Dini (GARDU CENTINI) di Aula Gedung Pertemuan Bank Daerah Gunungkidul, yang di hadiri dan canangkan langsung oleh Bupati H.Sunaryanta, Selasa (5/7).

Ketua penyelenggara Kepala Dinas Kesehatan dr.Dewi Irawati, M.Kes dalam laporanya menyampaikan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita atau bayi dibawah lima tahun dan kekurangan gizi, sehingga menjadi terlalu pendek untuk ukuranya, yang juga di pengaruhi sejak dalam kandungan.[PIC4]

Sesuai survei tahun 2021 dari 4 anak di Indonesia mengalami stunting dan 1 dari 10 anak Indonesia mengalami gizi kurang.

sementara di dalam rangka penanganan stunting ini ada aksi diantaranya Gardu Centini yang memunculkan kesepakatan diantaranya Implementasi kebijakan percepatan penanganan stunting di Gunungkidul,
Menggerakkan perangkat daerah pemerintah kalurahan, tokoh masyarakat, tokoh Agama, akademisi, aktivis dunia usaha dan organisasi masyarakat untuk mendukung dan mempercepat penurunan stunting, Menggalakkan seluruh masyarakat hidup bersih dan sehat serta melaksanakan intervensi positif dan intervensi sensitif.

Dengan dilaksanakan deklarasi ini diharapkan ada rembuk dan kesepakatan untuk penanganan stunting di langkah selanjutnya.

Bupati Sunaryanta menyatakan bahwa dalam penanganan stunting, bagaimana kita melaksanakan di lapangan, intervensi terlebih dahulu untuk penanganan stunting.
Melihat angka stunting yang masih tinggi.
Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gunungkidul juga masih tertinggal dari daerah lain untuk itu bagaima upaya-upaya dan intervensi pemerintah daerah di dukung seluruh stage holder terus berupaya dalam penanganan stunting, apalagi jika melihat kedepan tahun 2045 mempersiapkan generasi emas bangsa Indonesia, yang harus dipersiapkan secara serius.
Di era globalisasi dan akan mendukung jalannya pembangunan, semua pihak dari akademisi, pendidikan, swasta organisasi masyarakat harus terus berkolaborasi.

Dalam rangka penanganan stunting kedepan penanganan stunting perlu di dukung dan di kembangkan melalui cara-cara seperti pendidikan dan edukasi terhadap generasi penerus, maupun sosialisasi pra-nikah.
Masifnya informasi juga harus di sampaikan kepada kelompok-kelompok organisasi masyarakat.
“Dengan penanganan yang baik, akan berdampak nyata pada terwujudnya SDM yang baik pula sehinga dalam rangka membangun Gunungkidul benar-benar bisa mewujudkan masyarakat yang sejahtera” pungkas Bupati.[PIC3]

Dalam kegiatan deklarasi rembuk stunting ini memunculkan sebuah kesepakatan dimana kesepakatan yang di ambil memuat 5 point di antaranya pertama Implementasi kebijakan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Gunungkidul, kesepakatan ke dua dengan menggerakan perangkat daerah, pemerintah kalurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, aktivis, dunia usaha dan organisasi masyarakat untuk mendukung percepatan penurunan stunting, kesepakatan ke tiga menggerakan masyarakat perilaku hidup bersih dan sehat, kesepakatan ke empat melaksanakam intervensi spesifik antara lain memastikan ibu hamil dan remaja putri untuk taat minum tablet tambah darah secara rutin, memastikan setiap ibu hamil dalam pemeriksaan ANC terpadu, memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan pemberian makanan bayi dan anak secara tepat, memastikan setiap bayi mendapatkan ASI eksklusif 6 bulan dan ASI lanjutan sampai anak usia 2 tahun, memberikan imunisasi dasar lengkap dan memantau tumbuh kembang balita, kesepakatan kelima dengan melaksanakan intervensi sensitif antara lain menyediakan akses air bersih, memenyediakan sanitasi yang layak, memenuhi asupan gizi seimbang dalam keluarga dan pendampingan keluarga beresiko stunting.

Kegiatan rembuk stunting ini juga dilakukan. penandatanganan berita acara dan diskusi, penyusunan rencana kerja serta paparan yang di sampaikan oleh akademisi rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta Prof dr. H.Hamam Hadi

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati H.Sunaryanta, Wakil Bupati Heri Susanto, S.Kom.,M.Si, Wakil Ketua DPRD Heri Nugroho, S.S., Ketua TP PKK Gunungkidul Hj.Diah Purwanti Sunaryanta, Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta Prof dr. H.Hamam Hadi, Kajari Gunungkidul, Kepala Perangkat Daerah, Panewu, Lurah, Kepala upt puskesman, organisasi profesi kesehatan, PKK.