Gunungkidul – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu pilar peningkatan kesejahteraan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PPHT) Padi Sawah Tahun 2026 yang dihadiri Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, di Kelompok Tani Sido Guyub, Dusun Gedaren I, Kalurahan Sumbergiri, Kapanewon Ponjong, Senin (20/7/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengendalian organisme pengganggu tanaman, tetapi juga menjadi ajang pengenalan berbagai inovasi pertanian berkelanjutan yang dikembangkan oleh petani setempat. Di antaranya adalah pembuatan pupuk organik, penerapan pengendalian hama secara alami tanpa bahan kimia berbahaya, hingga pengembangan sistem mina padi inovatif menggunakan media polybag.
Dalam kesempatan tersebut, dipaparkan bahwa sistem mina padi berbasis polybag dirancang untuk mengoptimalkan lahan tadah hujan yang selama ini menjadi tantangan utama pertanian di Gunungkidul. Teknologi tersebut juga dinilai mampu membantu petani yang memiliki keterbatasan lahan maupun tenaga kerja, sekaligus meningkatkan intensitas panen hingga lima kali dalam setahun.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap inovasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjadi model percontohan bagi daerah lain yang memiliki karakteristik lahan dan ketersediaan air serupa.
Selain pengembangan teknologi budidaya, pelatihan juga menitikberatkan pada strategi pengendalian hama tikus yang masih menjadi ancaman utama produksi padi. Para petani diberikan pemahaman mengenai reproduksi dan perilaku tikus yang sangat cepat, di mana sepasang tikus dapat berkembang biak hingga sekitar 1.280 ekor dalam satu tahun apabila tidak dikendalikan.
Karena itu, pengendalian hama dinilai harus dilakukan secara serentak oleh seluruh petani agar tidak terjadi perpindahan populasi tikus dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Metode yang diperkenalkan meliputi penggunaan umpan beracun dengan reaksi bertahap serta pembuatan asap belerang atau emposan secara mandiri sebagai solusi yang lebih hemat biaya.
Dalam arahannya, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto menegaskan bahwa modernisasi pertanian harus dibarengi dengan peningkatan kemandirian petani. Menurutnya, ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis perlu dikurangi dengan mengembangkan pupuk organik serta pengendalian hayati yang lebih ramah lingkungan.
Joko juga memperkenalkan gagasan “pertanian kuantum” sebagai simbol transformasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi dan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Ia mendorong pembangunan lahan percontohan yang produktif, efisien, dan memiliki nilai edukasi sehingga mampu menarik minat masyarakat maupun investor dalam mengembangkan sektor pertanian Gunungkidul.
“Melalui inovasi, kolaborasi, dan semangat gotong royong, pertanian Gunungkidul harus mampu menjadi sektor yang semakin maju, mandiri, dan berdaya saing. Pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan agar lahan-lahan yang selama ini kurang produktif dapat menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Joko.
Melalui program Pengelolaan Hama Terpadu dan berbagai inovasi pertanian tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul optimistis mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan.