Gunungkidul Terus Perkuat Upaya Percepatan Penurunan Stunting

GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat komitmen dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting melalui penguatan sinergi lintas sektor. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Gunungkidul yang dipimpin Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, di Ruang Rapat Handayani, Kompleks Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Selasa (28/7/2026).

Rapat koordinasi tersebut menjadi forum strategis untuk menyelaraskan kebijakan, mengevaluasi capaian program, sekaligus menyusun langkah-langkah percepatan penanganan stunting yang lebih terarah dan berbasis data. Kegiatan ini dihadiri unsur organisasi perangkat daerah (OPD), akademisi, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya sebagai bentuk penguatan kolaborasi dalam upaya menekan angka stunting di Kabupaten Gunungkidul.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Gunungkidul, Sugeng Prihartanto, mengatakan rapat koordinasi ini bertujuan melakukan sinkronisasi kebijakan sekaligus memantau efektivitas berbagai program pencegahan stunting yang telah berjalan.

Menurutnya, melalui dukungan pembiayaan APBD, pemerintah daerah ingin memastikan setiap program berjalan selaras dengan visi pembangunan daerah serta mampu menghasilkan penurunan angka stunting secara berkelanjutan melalui tata kelola yang lebih efektif.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Gunungkidul sekaligus Ketua TPPS Kabupaten Gunungkidul, Joko Parwoto, menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Anak-anak yang hari ini kita lindungi dari stunting adalah generasi yang akan menentukan daya saing Kabupaten Gunungkidul di masa mendatang. Oleh karena itu, percepatan pencegahan dan penurunan stunting menjadi agenda strategis yang sejalan dengan visi RPJMD Kabupaten Gunungkidul Tahun 2025–2029,” ujarnya.

Joko mengapresiasi tren penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Gunungkidul dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data pemerintah daerah, prevalensi stunting turun dari 22,2 persen pada 2023, menjadi 19,7 persen pada 2024, dan kembali menurun menjadi 16,62 persen pada 2025.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama melalui berbagai program inovatif yang melibatkan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa masih terdapat ribuan balita yang mengalami stunting sehingga upaya percepatan penanganan harus terus diperkuat.

Memasuki tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menetapkan 10 kalurahan sebagai lokasi prioritas penanganan stunting berdasarkan Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 147 Tahun 2025.

Kesepuluh kalurahan tersebut meliputi Pacarejo, Semanu, Dadapayu, dan Ngeposari di Kapanewon Semanu; Semin di Kapanewon Semin; Ngalang, Tegalrejo, dan Hargomulyo di Kapanewon Gedangsari; Kemadang di Kapanewon Tanjungsari; serta Giripurwo di Kapanewon Purwosari.

Penetapan lokasi prioritas didasarkan pada sejumlah indikator, di antaranya jumlah balita pendek dan sangat pendek, prevalensi stunting, jumlah ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), prevalensi ibu hamil KEK, angka unmet need, hingga akses rumah tangga terhadap air minum layak.

Selain itu, pada tahun 2026 Bupati Gunungkidul juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 32 Tahun 2026 tentang pelaksanaan Intervensi Serentak Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (P3S). Program tersebut menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta balita usia 0–59 bulan melalui pendataan, penimbangan, pengukuran sesuai standar, verifikasi, pencatatan, dan pelaporan di posyandu.

Dalam rapat koordinasi tersebut, TPPS juga membahas tiga agenda utama, yakni kebijakan penanganan stunting, capaian penanggulangan stunting semester I tahun 2026, serta rencana pelaksanaan berbagai intervensi sepanjang tahun 2026.

Joko berharap seluruh perangkat daerah, pemerintah kalurahan dan kapanewon, organisasi masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat terus memperkuat sinergi agar setiap program berjalan sesuai sasaran.

Ia juga menilai berbagai inovasi seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan Gerakan Ayah Teladan telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong keterlibatan keluarga dalam pencegahan stunting sejak dini.

Mengakhiri arahannya, Joko mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan rapat koordinasi tersebut sebagai momentum memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan Generasi Emas Gunungkidul yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.

“Pencapaian target nasional prevalensi stunting di bawah 14 persen pada tahun 2027 harus menjadi tujuan bersama. Penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan pemerintah,” tegasnya.

Leave Your Comment

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.