Bupati Gunungkidul Gelar Buka Bersama dan Perkuat Komitmen Bagi Penyandang Disabilitas

Gunungkidul – Suasana penuh kehangatan dan rasa persaudaraan menyelimuti Bangsal Sewokoprojo saat Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar acara silaturahmi dan buka puasa bersama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul (FKDG).

Acara ini menjadi momentum penting bagi jajaran pemerintah daerah untuk mendengar langsung aspirasi sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga penyandang disabilitas di bulan suci Ramadan.

Acara dibuka dengan sambutan dari Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Gunungkidul, Wahyu Nugroho. Dalam penyampaiannya, Wahyu mengaku sangat terharu melihat antusiasme para peserta yang hadir, bahkan ada rombongan yang sudah tiba sejak siang hari meski menempuh perjalanan jauh dari wilayahnya seperti Trowono.

“Bahwa kehadiran rekan-rekan disabilitas merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pemerintah daerah yang ingin terus memuliakan sesama.” ungkap Wahyu Nugroho.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pertuni Gunungkidul, Subarjono, dan Ketua FKDG, Mujiana, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kesempatan yang diberikan untuk berkumpul di Bangsal Sewokoprojo, Sabtu sore, (14/3/2026). 

“Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul (FKDG), yang telah berdiri sejak 2014, kini menaungi delapan organisasi disabilitas di tingkat kabupaten dan memiliki koordinator di 18 kapanewon.” kata Mujiana.

Ia berharap agar Bupati dan jajarannya senantiasa memberikan perhatian terhadap pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Gunungkidul.

*Refleksi Kehidupan dan Pesan Sang Ibu*

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, dalam sambutannya memberikan pesan-pesan yang sangat menyentuh hati. Ia mengungkapkan bahwa kehadirannya di tengah-tengah anggota Pertuni dan FKDG adalah atas dorongan dari ibundanya yang selalu mengingatkannya untuk tidak melupakan saudara-saudara penyandang disabilitas. 

“Bagi Saya, pertemuan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah “universitas kehidupan” untuk belajar bersyukur dan mawas diri.” kata Bupati Endah.

Ia juga menekankan bahwa nasib manusia bisa berubah sewaktu-waktu, di mana siapa pun bisa saja mengalami kondisi fisik yang terbatas karena faktor usia maupun kecelakaan, sehingga tidak ada alasan bagi yang sehat untuk merasa sombong.

“Ibu saya selalu berpesan agar saya melihat dan belajar dari bapak-ibu semua supaya dalam melangkah tidak tersesat (geblasuk),” ujar Bupati.

*Pengakuan Jujur dan Komitmen Pelayanan*

Bupati juga sempat meneteskan air mata saat mengenang masa sulit pandemi COVID-19, di mana banyak anggota Pertuni yang berprofesi sebagai pemijat kehilangan mata pencahariannya karena kebijakan pembatasan fisik. 

Ia pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka jika pelayanan pemerintah daerah melalui Dinas Sosial saat ini dirasa belum sepenuhnya adil dalam memenuhi hak-hak penyandang disabilitas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah untuk mempertebal keimanan agar setiap individu tidak mudah putus asa dalam menghadapi ujian hidup.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan komunitas disabilitas terus menguat demi mewujudkan masyarakat Gunungkidul yang lebih sejahtera dan terlindungi hak-haknya.