Gunungkidul – Dalam rangka menjaga ketahanan nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia diperlukan dukungan ketahanan pangan yang baik sehingga stabilitas nasional dapat terjaga. Berbagai upaya telah ditempuh pemerintah dalam program mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada pangan, dimana tidak hanya melibatkan unsur pertanian saja tetapi juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Salah satu wujud nyata peran TNI Angkatan Darat yang telah dilakukan oleh jajaran TNI AD adalah dengan melakukan gerakan serentak dan terstruktur di lapangan mulai jajaran Korem, Kodim, Koramil hingga tingkat Babinsa berupa pendampingan secara langsung kepada petani dan penyuluh diluar tugas utamanya dalam pembinaan teritorial.
Beberapa hal tersebut mengemuka pada saat pertemuan Komandan Kodim 0730/Gunungkidul Letkol Muhammad Taufik Hanif dengan Gapoktan se-Desa Monggol Kecamatan Saptosari sesuai dilakukan panen padi Hybrida Pioner (P5) di Bulak Monggol, Saptosari, Gunungkidul pada hari Selasa (21/2/2017).
Turut hadir pada kesempatan ini Danramil Paliyan beserta jajarannya, Camat Saptosari, Babinkamtibmas Polsek Saptosari dan jajaran Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul serta penyuluh dari BPP Saptosari.
Panen padi varietas pioner (P5) yang dilaksanakan dibawah guyuran rintik hujan di demplot lahan milik Trisno Utomo tidak menyurutkan semangat anggota TNI dan warga masyarakat. Panen diawali dengan memanen padi hybrida pada ubinan yang telah disediakan pada demplot, oleh Dandim 0730/Gunungkidul didampingi penyuluh BPP Saptosari yang dilanjutkan pada ubinan varietas ciherang di lokasi yang berbeda.
Dalam sambutan dan pengarahan Dandim 0730/Gunungkidul Letkol M. Taufik Hanif kembali menegaskan bahwa TNI AD selain memiliki tugas pembinaan teritorial juga mempunyai tugas pendampingan terhadap petani dan penyuluh dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional.
Ditambahkan bahwa jajaran Kodim 0730/Gunungkidul untuk mendukung swasembada pangan nasional selain melakukan pendampingan penyuluh dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, juga dengan menggandeng sektor swasta melaksanakan program ujicoba penanaman padi varietas Trisakti yang memiliki masa tanam hanya 75 hari di dua titik lokasi yaitu di Beji Patuk dengan luas lahan 25 hektar dan di Plembutan, Playen seluas 5 hektar serta rencana pembangunan jalan usaha tani sepanjang 400 meter di Plembutan, Playen.
“ Hal tersebut sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani “. kata Dandim dihadapan gapoktan dan hadirin di kediaman Trisno Utomo seusai panen padi.
Letkol M. Taufik Hanif juga menyampaikan masih banyak tugas yang harus diemban serta tantangan yang harus dihadapi dalam pendampingan penyuluh dan petani untuk mensukseskan program pemerintah dalam bidang pertanian sehingga diharapkan sektor pertanian dapat menjadi fokus bersama semua elemen bangsa untuk mewujudkan kedaulatan pangan dalam mendukung ketahanan nasional.
Kepada petani Dandim 0730/GK mengharapkan, petani dapat menerapkan ilmu dan petunjuk dari penyuluh dalam bertani. “ Kelompok tani hendaknya mengikuti ilmu pertanian dari penyuluh dan dapat dipedomani serta menjadi pertimbangan petani pada musim tanam yang akan datang ”. harap M. Taufik Hanif, sedangkan kepada anggota TNI yang hadir juga diharapkan dapat meningkatkan perannya dalam mewujudkan ketahanan pangan serta menyiapkan demografi menjadi ruang juang bagi TNI. “ Kita tidak mungkin akan dapat berjuang apabila perut dalam keadaan lapar ”.tambahnya.
Dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Subranto, STP Kasi Produksi Tanaman Pangan dihadapan hadirin menyampaikan bahwa program pemerintah pada tahun 2017 ini tanaman hybrida di Gunungkidul ditargetkan seluas 250 hektar dan untuk wilayah Saptosari + 35 ha. Selanjutnya Subranto memberikan penjelasan teknis bagi pertanian yang telah menggunakan tanaman hybrida harus diimbangi dengan pemenuhan unsur hara yang memadai bagi tanaman dengan cara petani melakukan pemupukan yang berimbang. “ Petani untuk menghadapi masa tanam yang akan datang harus memilih dan memperhitungkan untuk menanam tanaman secara monokultur atau tumpang sari sehingga hasil panennya dapat memuaskan “.kata Subranto
Dijelaskannya bahwa apabila petani akan melakukan pola tanam dengan cara tumpang sari hendaknya dapat mengatur secara proporsional sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal, sedangkan untuk pola tanam monokultur dapat mengaplikasikan teknik legowo pada padi terbukti dari hasil yang didapat dari percobaan lebih banyak daripada yang selama ini diterapkan petani.
Pola tanam jajar legowo disampaikan Subranto merupakan pola tanam dengan prinsip tanaman tepi sehingga jumlah tanamannya sebenarnya lebih banyak serta memudahkan bagi petani dalam melakukan perawatan dan pemupukan tanamannya.
Hasil panen padi hybrida yang dilaksanakan pada kesempatan ini dikemukakan penyuluh pertanian Sriyatun dari perhitungan hasil untuk hybrida pioner P5 diperoleh hasil sebagai berikut; ubinan ukuran 2,5 X 2,5 menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) 8,2 ton/ha, untuk ubinan ukuran 2 X 3 atau legowo GKP yang dihasilkan 10,9 ton/ha. Sedangkan hasil ubinan padi varietas Ciherang hanya menhasilkan GKP 4,6 ton/ha.(sura/marno)
[PIC1] [PIC2]
[PIC4] [PIC5]

