Diresmikan, Griya Cokelat Hasil Kerjasama LIPI dengan BI dan Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul -Bertempat di Desa Nglanggeran dilaksanakan Peresmian Griya Cokelat oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pembangunan Griya Cokelat ini merupakan kerja sama alai Penelitian Teknologi Bahan Alam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BPTBA LIPI),  Bank Indonesia dan Pemkab Gunungkidul yang telah mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan perekonomian warga. Bantuan melalui sinergi bersama ini diberikan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Kumpul Makaryo” di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Salah satu wujud nyata bantuan itu adalah sarana dan prasarana berupa peralatan dan pembangunan rumah produksi atau showroom yang diberi nama Griya Coeklat Nglanggeran.

Kerja sama ini akan menciptakan optimisme baru dalam mewujudkan Gunungkidul yang berdaya saing, lebih maju, makmur dan sejahtera. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui dinas terkait terus berupaya mengangkat dan mempromosikan potensi-potensi daerah dalam rangka mengangkat perekonomian warga.

Nglanggeran  sebagai salah satu pusat pembudidayaan Kakao yang ada di Kabupaten Gunungkidul tidak hanya menambah keberagaman potensi wisata daeah, akan tetapi merupakan peluang usaha bagi masyarakat sekitar, dengan harapan menjadi sebuah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

[PIC1][PIC2]

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang langsung hadir pada acara yang dilangsungkan Jumat Siang (02/12/2016) kemarin mengatakan sangat mengapresiasi apa yang dilakukan dalam rangka pengembangan pertanian dan pengolahan kakao. Dengan adanya pemberian bantuan teknis sampai pengolahan pasca panen dirasa diharapkan membantu para pelaku UMKM di Gunungkidul. Para pelaku UMKM nantinya juga akan diberikan bantuan sarana dan prasarana berupa peralatan dan pembangunan rumah produksi serta fasilitasi studi banding ke institusi pelaku kegiatan cokelat yang lain, tambah Sultan.

Gubernur menambahkan, awalnya kakao yang tumbuh di lahan pekarangan bukan merupakan komoditas yang dianggap penting oleh masyarakat. Namun, pendampingan klaster kakao yang telah dilakukan sejak tahun 2014, telah berhasil membuat masyarakat menjadikan kakao sebagai komoditas penting dengan mengolahnya menjadi berbagai olahan seperti dodol coklat, coklat instan aneka rasa, cokelat praline dan yang terbaru adalah coklat batang. Olahan lanjutan dari tanaman kakao ini secara otomatis meningkatkan nilai tanaman kakao sendiri yang nantinya berdampak kepada kesejahteraan petani maupun pengolah.

Akibat keberhasilan kelompok dalam melakukan diversivikasi berbagai produk olahan kakao, dikhawatirkan bahan baku yang tersedia tidak bisa mencukupi. Menjawab kekhawatiran ini, Pemda DIY telah memberikan bantuan berupa penanaman 1000 bibit kakao dan program intensifikasi pertanian yang diharapkan dalam beberapa tahun kedepan dapat meningkatkan produksi biji kakao sebagai bahan baku olahan kakao yang menunjang industry kecil pengolahan kakao.

“Pesan saya, griya cokelat harus siap jadi pebisnis agar bisa bersaing dan menjadi industri pendukung pariwisata di Nglanggeran. Petani kan sudah diberi pohon kakao, jadi harus dirawat agar bisa menyuplai bahan baku sehingga petani siap sebagai penyedia bahan baku,” kata Gubernur.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Kepala LIPI Prof. Dr Bambang Subiyanto, Ph.D, Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Bapak Budi Santosa, Wakil Ketua DPRD DIY, Ibu Rani, Bupati Gunungkidul Hj.Badingah,S.Sos beserta jajarannya, para pelaku petani Kakao dan tamu undangan sekitar 500 orang.

Dalam sambutannya, Professor Dr. Bambang Subiyanto menyampaikan, LIPI siap menampung permasalahan teknologi di masyarakat. Ia juga mengharapkan dukungan dari SDM yang siap untuk dibina agar transfer teknologi berjalan kontinyu. Pendampingan dari LIPI terkait penguasaan alat ini diharapkan akan semakin mempermudah dan mempercepat proses pengolahan kakao menjadi produk-produk bernilai tinggi.

“Kita siap memfasilitasi para petani maupun pengolah terkait penguasaan teknologi,” imbuh Bambang.

Pada kesempatan lain, Kepala BPTBA LIPI, Hardi Julendra mengungkapkan pembangunan rumah produksi coklat ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi masyarakat untuk tetap berproduksi dan berinovasi.

“Selain itu, Griya Cokelat diharapkan bisa menjadi tempat berbelanja oleh-oleh khas Desa Nglanggeran, khususnya olahan coklat. Dari sini, maka harapan lainnya adalah peningkatan ekonomi masyarakat sekitarnya lewat keberadaan showroom tersebut,” tuturnya.

Julendra bercerita, dipilihnya Nglanggeran sebagai lokasi Griya Cokleat karena memiliki sejarah cukup panjang. Desa ini merupakan salah satu wilayah sumber penghasil kakao terbesar di Gunungkidul. Lalu, Nglanggeran juga merupakan desa percontohan untuk mengelola ekonomi lokal dalam bentuk usaha berbasis komunitas (Community Based Enterprise).

“Oleh karena itu, strategi pengembangan produksi kakao di Nglanggeran merupakan perpaduan antara potensi sektor agro dengan berbagai komoditas yang ada, terutama Gunung Api Purba yang sangat potensial sebagai komoditas pariwisata yang dikemas dalam pola agrowisata,” jelasnya. (marno/hari)