Goa Sapto Argo Harapan Warga Plarung Sawahan

Gunungkidul – Perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Gunungkidul khususnya destinasi wisata minat khusus berupa susur goa di Goa Pindul Bejiharjo, Karangmojo telah menjadi inspirasi bagi sebagian warga masyarakat Gunungkidul untuk menggali dan mengembangkan potensi alam yang ada disekitar tempat tinggalnya. Selanjutnya potensi yang ada dibenahi dan ditata untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata baru, dengan harapan kedepan dapat  menjadi destinasi wisata yang dapat menarik kunjungan wisatawan dan mampu mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Demikian pula dengan Trisno Suwito (73 th) warga Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan  Ponjong ini, lahan diatas pegunungan peninggalan orang tua yang selama ini digarap dengan ditanami padi, palawija dan aneka tanaman minor dari jenis umbi-umbian, ternyata terdapat goa yang sangat menarik. Goa yang diberi nama Goa Sapto Argo tersebut berada di bawah bebatuan yang berlapis seperti batu-batu yang bersusun.

Goa Sapto Argo di lahan Trisno Suwito ini juga unik karena di dalam goa dengan kedalaman kurang dari tiga meter sudah bercabang atau terdiri beberapa lorong yang masing-masing mempunyai ciri yang berbeda-beda. Kondisi di dalam goa tidak gelap seperti lazimnya goa-goa, hal tersebut karena banyak lubang vertikal di atas langit-langit goa sehingga cahaya matahari dapat masuk menjadi penerang di dalam goa Sapto Argo.

[PIC2]

Menurut penuturan Trisno Suwito goa Sapto Argo yang berarti Tujuh Gunung ini telah ada sedemikian rupa semenjak dirinya masih kecil hingga saat ini kondisinya masih sama, dijelaskan oleh Trisno Suwito bahwa goa ini setelah masuk akan terdapat dua lorong kearah timur dan barat di sisi barat lorong goa agak gelap dan terdapat sungai yang mengalir berair jernih sementara pada sisi timur ada sedikitnya dua lorong yang cukup terang yang memiliki mulut goa di ujung lahan pertaniannya. “ Waktu untuk menyusuri lorong-lorong goa Sapto Argo ini dari ujung satu ke ujung yang lain diperlukan waktu kurang lebih dua jam baru selesai “ kata Trisno Suwito di sela-sela menerima kunjungan Tim Adhikarya Pangan Nusantara (APN) Kabupaten Gunungkidul yang di pimpin Mujiyana S.TP,MA dari BP2KP Gunungkidul, Rabu (3/8/2016).

[PIC4]

Lebih lanjut Trisno Suwito berdasar cerita dari orang tuanya goa Sapto Argo ini konon merupakan tempat untuk bertapa oleh orang-orang yang menyepi dari keramaian. Adapun terkait keberadaan goa Sapto Argo, pria berjenggot putih ini berdasarkan cerita turun temurun dari kakek nenek serta orang tuanya goa ini merupakan tempat pertapaan Eyang Abiyasa pada salah satu lorong goa yang disebut dengan nama Goa Tlethikan.

Seperti dikemukakan Trisno Suwito, “ Goa ini untuk pertapaan menurut cerita nenek moyang dan orang tua, goa yang dibawah kayu biasa disebut Goa Tlethikan konon dahulu untuk pertapaan eyang Abiyasa “.

Harapan Trisno Suwito kedepan pemerintah dapat memberikan perhatian terkait keberadaan goa ini sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Sawahan selanjutnya dapat meningkatkan derajat kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar Goa Sapto Argo.

Mujiyana seusai menyusuri goa bersama anggota Tim APN mengatakan Goa Sapto Argo ini menarik untuk dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata minat khusus namun perlu diperbaiki akses menuju lokasi goa mengingat saat ini untuk mencapai lokasi goa hanya melewati galengan (pematang) ladang yang ada.

[PIC3]

Sementara itu menanggapi permintaan warga masyarakat Mujiyana dari Tim APN Kabupaten Gunungkidul menyambut baik dan mendukung inisaitif warga yang berencana menggunakan lokasi disekitar Goa Sapto Argo untuk menggelar pameran hasil bumi berupa tanaman minor (umbi-umbian) yang terdiri atas Ubi Kayu, Uwi, Gembili, Suweg, Katak, dan Jemino pada saat menerima Tim Verifikasi APN dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 15 Agustus 2016 mendatang, sekaligus kegiatan ini sebagai ajang promosi wisata  destinasi wisata Goa Sapto Argo yang ada di Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan  Ponjong ini.(soera)