Gunungkidul Menuju Adhi Karya Pangan Nusantara

Dalam kehidupan berbangsa dan negara ketahanan nasional menjadi unsur utama untuk menjamin keamanan dan kenyamanan warga negara, salah satu pilar dalam menciptakan ketahanan nasional adalah ketahanan pangan. Kabupaten Gunungkidul sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia terus meningkatkan produksi pangan di daerah dan terus menggali potensi yang ada di wilayah Gunungkidul. Dengan potensi ketersediaan pangan yang ada di wilayah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) melaksanakan progran intesifikasi dan diversifikasi (penganekaragaman) pangan dengan memanfaat tanaman pangan lokal yang ada. Penghargaan Adhi Karya Pangan Nusantara (APN) dari Dewan Ketahanan Pangan Nasional menjadi salah satu tolok ukur bagi individu, kelompok tani, masyarakat maupun pemerintah daerah yang berhasil dalam program ketahanan pangan.

Menyikapi hal tersebut Tim Adhi Karya Pangan Nusantara (APN) kabupaten Gunungkidul yang dipimpin Mujiyana, S.P, MA Kabid Ketahanan Pangan BP2KP Gunungkidul bersama anggota Tim APN, Rabu (3/8/2016) melaksanakan monitoring dan evaluasi di tiga kelompok tani yang akan maju mewakili Kabupaten Gunungkidul pada program APN 2016 sebagai lokasi verifikasi oleh Tim APN tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta yang direncanakan akan dilaksanakan pada 15 Agustus 2016 mendatang.

Dijelaskan oleh Kabid Ketahanan Pangan BP2KP Kabupaten Gunungkidul Mujiyana, lokasi yang ditunjuk sebagai wakil yaitu;

  1. KWT Maju lestari, alamat : Lemahbang, Karangasem, Paliyan yang bergerak dalam pengolahan pupuk organik untuk mendukung pertanian organik di Gunungkidul.
  2. UKM Yudi Permana, alamat : Pakel, Hargosari, Tanjungsari yang bergerak dalam pengolahan ubi kayu menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi seperti; manggleng dan pathilo.
  3. Trisno Suwito, alamat : Plarang, Sawahan, Ponjong, petani yang melestarikan dan mengembangkan tanaman minor (jenis umbi-umbian meliputi; gembili, uwi, suweg, katak, kimpul dan jemino) yang saat ini kurang mendapat perhatian dari petani di Gunungkidul.

[PIC2] [PIC3] [PIC4]

 

Di sela-sela melaksanakan verifikasi dikemukakan oleh Mujiyana bahwa tanaman minor yang ada di Kabupaten Gunungkidul sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa namun belum dikembangkan petani secara maksimal baru sebatas tanaman pagar di ladang.

“ Jenis tanaman umbi-umbian khususnya suweg jarang dikonsumsi karena gatel apabila dimakan namun apabila diolah secara benar kandungan asam oksalat dapat dihilangkan sehingga tidak menyebabkan gatel dan umbi-umbian ini aman dikonsumsi oleh penderita penyakit gula karena tidak menggandung gulten sebagaimana beras dan ketan. Bahkan suweg di wilayah lain sudah ada yang mengolah menjadi tepung untuk diolah menjadi bahan roti dan minuman sereal “. kata Mujiyana

[PIC1]

Ditambahkan Kabid Ketahanan Pangan BP2KP Kabupaten Gunungkidul selain hasil produksi pertanian berupa umbi-umbian jenis padi, jagung dan kedelai (Pajale) tetap menjadi prioritas utama dalam meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Gunungkidul.(soera)