Gunungkidul – Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini 30,8 % atau sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 (dua) tahun.
[PIC2]
Stunting bukanlah isu sederhana, faktor utama penyebab terjadinya stunting bukanlah faktor keturunan seperti yang selama ini menjadi paradigma di masyarakat namun kendala lingkungan jauh lebih berperan dalam terjadinya stunting.
[PIC3]
Stunting, tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang Dampak lanjutan dari stunting atau yang dikenal dengan fenomena Baker berefek pada kesehatan dan produktivitas anak, tingkat kecerdasan yang menurun, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa.
[PIC1]
Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan. Penanganan stunting tidak hanya dari sisi kecukupan gizi namun juga perlu dibudayakan hidup sehat dengan melakukan langkah kecil melalui perubahan pola hidup dan pola makan ke arah yang lebih sehat, sehingga kekurangan gizi kronis dapat diatasi.
[PIC4]
Untuk mengatasi permasalah kurang gizi kronis tersebut tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Kementerian atau Lembaga Pemerintah melalui para Menteri, Gubernur serta Kepala Daerah, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat, juga dapat harus memberikan dukungan, komitmen, dan peran-sertanya dalam bergotong royong meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang.
Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mendukung suksesnya program penurunan angka stunting Kementerian Komunikasi Dan Informatika RI, bekerja sama dengan Dinas Komunikasi Dan Informatika Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gunungkidul menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dalam Rangka Penurunan Prevalensi Stunting, melalui media Pertunjukan Rakyat seni pagelaran wayang kulit semalam suntuk, dengan dalang Ki Warseno Slenk, di Pendopo Kantor Kecamatan Ngawen, (23/03) malam.
Tampak hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati Gunungkidul, Dr. H. Immawan Wahyudi, unsur Forkopimda, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemenkominfo RI, Wiryanta, Ph.D., Kepala Dinas Kominfo Gunungkidul, Kelik Yunianto, Kepala Dinas Kesehatan diwakilkan, Sekdinkes, Priyanta Madya dan Camat Ngawen beserta unsur Forkopimca.
Dihadapan Wakil Bupati dan tamu undangan, ketua panitia penyelenggara, Kelik Yunianto, menyampaikan, media pertura dipilih karena memiliki sifat menghibur dan dapat menyampaikan pesan dalam suasana santai dan menyenangkan, sehingga lebih menarik perhatian masyarakat. Selain itu pagelaran pertunjukan rakyat juga dimaksudkan sebagai upaya untuk melestarikan kesenian tradisional yang saat ini eksistensinya mulai tergerus oleh media massa modern dan media baru.
Kekuatan media tradisional sebagai media penyebaran informasi terletak pada unsur cerita dan dialog yang pesannya disampaikan secara luwes, fleksibel sesuai dengan budaya lokal masyarakat. Di sisi lain, pertunra memiliki sentuhan yang berdimensi personal dan budaya sehingga tercipta komunikasi yang efektif dan persuasif, serta mudah diterima masyarakat.
Lebih lanjut, Kelik, mengatakan tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang Stunting kepada masyarakat serta meningkatkan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dengan sasaran terwujudnya perilaku masyarakat Hidup Bersih dan Sehat dalam rangka penurunan prevalensi stunting.
Pada kesempatan yang sama, Immawan Wahyudi, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kementerian Kominfo RI, yang telah memberikan perhatian dan kepeduliannya kepada masyarakat Gunungkidul, hal ini sangat penting disampaikan kepada masyarakat hingga tingkat bawah. Dinilai sangat tepat sekali sosialisasi dengan menggunakan seni budaya seperti ini, “ini akan memudahkan dalam penyampaian pesan kepada masyarakat, selain itu akan lebih efektif serta salah satu cara melestarikan budaya kita”, tutur Immawan.
Diharapkan semua pihak dapat mendukung pemerintah dalam menurunkan angka stunting yang masih ada, terlebih setelah diselenggarakan sosialisasi masyarakat agar lebih teredukasi sehingga akan lebih memahami dalam pencegahan stunting.
Sebelum membuka secara resmi pagelaran wayang kulit, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Wiryanta, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, yang ternyata angka stunting di Gunungkidul berada di bawah angka stunting secara nasional. “Saya sangat bangga dengan keberadaan Gunungkidul saat ini, berkat kerja kerasnya banyak prestasi yang diraih, bukan hanya dalam menurunkan stunting saja”, ungkapnya.
Disela sambutannya, Wiryanta, juga menyampaikan beberapa hal capaian pemerintah. Pemerintah berharap agar permasalahan stunting ini dapat diatasi secara bersama-sama dimulai dari perilaku hidup bersih dan sehat oleh masyarakat untuk menuju kesejahteraan hidup yang lebih baik.
Pagelaran wayang kulit diawali dengan penyerahan secara simbolis wayang (Anoman) oleh Wakil Bupati, Immawan Wahyudi kepada Dalang Ki Warseno Slenk. (*tim_IKP)

