[PIC1] TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL – Iduladha tinggal beberapa hari lagi.
Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi menghimbau kepada masyarakat agar kembali menggunakan cara-cara kearifan lokal untuk mengemas daging kurban.
Immawan menjelaskan, pengemasan dengan cara kearifan lokal adalah dengan membungkus daging kurban dengan menggunakan daun jati seperti yang dilakukan masyarakat Gunungkidul tempo dulu.
“Kalau menggunakan plastik apalagi yang berwarna hitam dapat mengakibatkan 2 penyakit yang pertama adalah pentakit berupa sampah plastik yang kedua adalah penyakit yang bisa diderita seseorang,” ucapnya saat ditemui Tribunjogja.com, di ruang kerjanya, Senin (5/8/2019).
Ia mengatakan plastik yang berwarna hitam adalah plastik dari hasil daur ulang yang sangat berbahaya jika kandungannya sampai masuk ke dalam tubuh manusia sehingga dapat memicu penyakit.
“Selain itu jika dikemas dengan menggunakan daun jati daging sapi atau kambing lebih awet dan lebih enak ketika diolah menjadi makanan,” imbuhnya.
Lanjut Immawan, tradisi tersebut terlihat sederhana tetapi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar karena dapat meminimalisir sampah plastik yang kemungkinan dihasilkan dari kegiatan kurban.
“Kalau surat edaran resmi dari Pemkab Gunungkidul memang belum ada namun bupati maupun OPD terkait lingkungan hidup sudah berkampanye untuk mengurangi sampah plastik,” katanya.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnubroto mengatakan, pihaknya akan melakukan pengujian sampel pada tanggal 6 dan 7 Agustus 2019, pengujian tersebut dilakukan di Desa Grogol 4.
“Kita akan melihat perkembangannya yang diambil adalah sampel tanah. Kemudian di penampungan juga akan dilakukan survey kita ambil sampel tanahnya,” katanya.
Pihaknya telah melakukan pemeriksaan sebelumnya yaitu di Dusun Lemah Abang, Mulusan, Kecamatan Paliyan dan hewan ternak dari penampungan tersebut sudah dikirim ke Jakarta.
“Sapi sudah dikirim ke Bandung dan Jakarta sebanyak 160-200 ekor disana sudah diperiksa lalu di Gobeh, Bendung Semin sudah dikirim 14 ekor untuk DIY, lalu di Kali tekuk ada 60 ekor sudah dikirim ke DIY,” paparnya.
Ia mengatakan hewan ternak yang berasal dari Grogol 4 belum ada yang keluar karena daerah tersebut mendapatkan pengawasan yang ketat.
“Kalau sapi yang sudah divaksin boleh keluar tetapi jika ada ditemukan sapi di daerah Grogol 4 yang terkena antraks kembali maka hewan ternak dari Grogol 4 tidak boleh keluar,” ujarnya.
Bambang mengucapkan ditemukannya antraks di wilayahnya tidak terlalu berpengaruh kepada penjualan hewan ternak keluar ke Gunungkidul.
“Buktinya masih banyak daerah yang membeli sapi dari Gunungkidul,” pungkasnya.(*)

