Pagelaran Campursari 90 Jam Nonstop

Dalam rangka mengenang maestro campursari asal Gunungkidul, Manthous, mulai hari ini, 21 Mei hingga 25 Mei 2016, akan digelar pentas campursari 90 jam nonstop di Alun-alun Wonosari. Pentas campursari ini sekaligus untuk memecahkan rekor Muri sekaligus memperingati hari jadi Gunungkidul ke 185.

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan bahwa Almarhum Manthous merupakan  maestro campursari, yang banyak menciptakan lagu-lagu campursari dan mengembangkan kesenian campursari. Campursari saat ini sudah mendunia dan digemari dari berbagai kalangan.[PIC1]

Dalam pagelaran 4 hari lima malam berturut-turut tersebut, setiap grup mendapatkan kuota waktu selama 3 jam untuk menampilkan lagu-lagu campursari klasik, bebas. “Peralatan baik alat musik, panggung dan sound sistem sudah disediakan oleh panitia terkecuali jika akan menambah alat musik seperti keyboard dipersilahkan,” tambah Supriyanto. 

Lebih lanjut Supriyanto mengatakan bahwa kegiatan pentas seni campursari selama 90 jam tanpa berhenti murni inisiatif dari masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari sumber pendanaan yang digunakan, karena berasal dari patungan masyarakat dan tanpa menggunakan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. “Anggarannya sekitar Rp300 juta, dan ini murni dari masyarakat,” kata Supriyanto.

Dia menjelaskan, pentas seni ini akan didukung 47 grup musik campursari dari berbagai daerah. Seluruh seniman yang hadir tidak ada yang dibayar, sedang anggaran yang dimiliki murni digunakan untuk sewa peralatan pendukung dalam acara itu. “Kalau grupnya dibayar, anggarannya bisa tembus Rp3 miliar. Tapi ini semua gratis, mereka datang memang benar ingin berpartisipasi ” katanya.

Sementara itu Ketua Umum Pemecahan Rekor Muri, Cak Dikin menjelaskan, untuk kesuksesan penyelenggaraan  pemecahan rekor muri pentas musik campursari di Alun-Alun Wonosari akan menggunakan dua buah panggung yang terletak di sisi barat dan timur. Nantinya kedua panggung itu digunakan secara bergantian sehingga tidak ada waktu berhenti dalam pemecahan rekor ini. Meski pementasan dilakukan secara terus menerus, namun panitia memutuskan ada jeda waktu selama 15 menit untuk memberikan kesempatan bagi warga atau para seniman untuk menjalankan ibadah. “Berhentinya pas waktu shalat saja, selain itu pentas terus akan jalan,” ujarnya. (harianjogja/nana)