Gunungkidul- Kegiatan Bimbingan Teknik Ngadi Busono yang diselenggarakan Dinas Kabudayaan Gunungkidul secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Kamis (16/09)
Diselenggarakannya kegiatan tersebut dalam rangka memberikan contoh yang benar bagaimana menggunakan busana jogja sesuai aturan. Busana yang dimaksud antara lain surjan, kebaya dan sinjang atau jarik.
Peserta pada kegiatan ini adalah perwakilan dari 13 OPD Kabupaten Gunungkidul dimana masing-masing mengirimkan 2 orang dan perwakilan dari 2 desa yaitu desa Kepek dan Logandeng. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 2 hari dimana hari pertama diisi dengan teori pengenalan jenis-jenis kain, kemudian hari kedua diisi dengan bagaimana cara menggunakan busana kejawen hingga bagaimana tingkah laku ketika mengenakan ageman jogja agar tidak meninggalkan paugetan yang ada.
| [PIC2] |
Wakil Bupati berpesan kepada semua OPD aga menggunakan pakaian kejawen dengan benar, saat menggunakan kebaya harus menggunakan jarik bukan celana panjang.
“Kalau ada yang masih seperti itu suruh pulang saja karena ini harus kita jaga, teposliro budaya unggah ungguh harus kita lestarikan,maka dari itu perwakilan OPD ini saya harap bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakat” pesannya
Bimbingan teknik Ngadi Busono tersebut merupakan periode ke 2, untuk periode pertama diselenggarakan dengan mengundang organisasi masyarakat. Adapun anggaran kegiatan ini sepenuhnya dibiayai dari Dana keistimewaan Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Warisan Budaya Agus Mantara, MM.
“kegiatan ini harus kita sosialisasikan dan kami mengundang perwakilan dari OPD harapannya teman teman OPD menjadi LO dan nanti bisa memberikan virus kebaikan teman teman OPD lainnya” ungkapnya
Pembukaan kegiatan tersebut ditandai dengan penyerahan kain secara simbolis oleh Wakil Bupati Heri Susanto kepada perwakilan OPD.
| [PIC1] |

