Pemkab Gunungkidul Kenalkan Geopark Kepada Pelajar

Gunungkidul – Sebanyak lebih kurang 260 siswa/siswi setingkat SMP dan SMA di wilayah Kecamatan Semanu dan Karangmojo mendapatkan pengetahuan mengenai kawasan Geopark yang membentang di pesisir selatan Pulau Jawa meliputi tiga kabupaten dan tiga propinsi yaitu Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur.

Pengenalan geopark kepada generasi muda atau siswa sekolah ini dikemas dalam suatu program kegiatan Sosialisasi Gunung Sewu UNESCO Geopark Global yang diselenggarakan Bagian Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Gunungkidul.

Putaran pertama pelaksanaan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 23 Agustus 2016 bertempat di Joglo Jomblang, Jetis, Pacarejo, Semanu dengan peserta sebanyak 130 orang yang terdiri atas perwakilan siswa siswi SMP dan SMA se-Kecamatan Semanu beserta guru geografi.

[PIC1]

Hadir pada kesempatan ini Asisten Administrasi Pembangunan Khairudin, Kabag SDA Setda Kabupaten Gunungkidul Asti Wijayanti, perwakilan dari Dinas Dikpora, Disbudpar, Dishubkominfo dan unsur Kecamatan Semanu. Sedangkan narasumber pada kesempatan ini yaitu;

  1. Cahyo Alkantana, Tim Percepatan Pengembangan dan Pembangunan Pariwisata Kementerian Pariwisata RI sekaligus owner kawasan Joglo Jomblang;
  2. Hanang Samodra, Peneliti Utama Badan Geologi Kementerian ESDM RI.

Dalam sambutannya Khairudin menyatakan bahwa tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini salah satunya adalah agar generasi muda lebih mengenal kawasan geopark gunung sewu yang berada di wilayah tempat tinggalnya sekaligus untuk memberikan motivasi agar generasi muda dapat mengambil manfaat serta menjaga kelesatarian kawasan geopark di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Pada paparannya Cahyo Alkantana dihadapan undangan dan peserta sosialisasi menyampaikan bahwa wilayah Gunungkidul dahulu merupakan hamparan bukit dan bebatuan sehingga orang sering menyebutnya orang Gunungkidul makan batu bahkan berdasarkan catatan sejarah di wilayah Kabupaten Gunungkidul warganya pernah mengalami paceklik. Namun seiring perjalanan waktu potensi alam yang ada ketika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik ternyata akan memberikan hasil yang memuaskan baik secara ekonomi maupun kesejahteraan warganya dan sektor yang dapat memberikan hasil yang lebih baik dan berkelanjutan tersebut adalah pariwisata.

[PIC2]

Dikemukakan Cahyo Alkantana bahwa kawasan wisata goa-goa atau wisata alam berdasarkan pengalamannya dibandingkan wilayah lain baik dalam maupun luar negeri kawasan yang paling bagus adalah Kawasan Gunungkidul.

“ Dapat kita saksikan tamu-tamu yang mengunjungi Goa Jomblang ini seratus persen adalah orang-orang bule “.kata Cahyo Alkantana.

[PIC4] [PIC5]

Ditambahkannya bahwa yang terpenting dalam mengelola potensi goa-goa yang ada di Gunungkidul adalah dengan menata, mengelola dan memeliharanya dengan baik sehingga kelestariannya berada ditangan generasi muda.“ Masa depan goa-goa ini berada di tangan kalian”. pesan Cahyo kepada siswa peserta sosialisasi.

Cahyo juga mengungkapkan pengalamannya ketika pertama kali berada di kawasan Jomblang, dimana pada saat itu kawasan ini sejauh mata memandang hanya merupakan hamparan bebatuan dan sangat panas ketika di siang hari. Dengan tekad dan kemauan yang kuat Cahyo Alkantana meskipun tidak memiliki latar belakang keilmuan di bidang pertanian maupun kehutanan menata dan menghijaukan kawasan ini dengan menanam pepohonan serta membuat teknologi tepat guna untuk mendapatkan suplai air dari sungai yang berada di bawah tanah, dan usahanya saat ini sudah bisa dirasakan terbukti kawasan disekitar Jomblang sekarang ini tampat hijau dan sejuk meskipun di siang hari.

[PIC3]

Kesempatan kedua Hanang Samodra dari Badan Geologi Kementerian ESDM RI memaparkan tentang kronologi dan perjalanan panjang kawasan Gunung Sewu mendapatkan pengakuan dunia dengan menjadi Kawasan Global Geopark Network dari UNESCO.  Ditegaskan pula oleh Hanang Samodra bahwa keberadaan geoparka yang ada di wilayah Gunungkidul ini merupakan warisan bumi yang harus dijaga dan dilestarikan, terdapat 13 geo site yang menjadi titik-titik kawasan geopark di Kabupaten Gunungkidul yang meliputi;

  1. Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk;
  2. Kali Ngalang, Gedangsari;
  3. Hutan Wanagama, Playen;
  4. Air Terjun Sri Gethuk, Bleberan, Playen;
  5. Goa Kali Suci, Semanu;
  6. Goa Jomblang, Semanu;
  7. Goa Pindul, Bejiharjo, Karangmojo;
  8. Lembah karst Mulo, Wonosari;
  9. Pantai Baron – Pantai Kukup – Pantai Krakal, Tanjungsari;
  10. Pantai Siung – Gunung Batur – Pantai Wediombo, Tepus dan Girisubo;
  11. Hutan Wisata Turunan, Girisuko, Panggang;
  12. Goa Cokro, Umbulrejo, Ponjong;
  13. Bengawan Solo Purba (Sadeng) Pucung, Girisubo.

Ditambahkan pula oleh Hanang Samodra bahwa keberadaan kawasan geopark ini memiliki tiga fungsi utama yaitu; konservasi (pelestarian lingkungan), edukasi (pedidikan atau ilmu pengetahuan) dan ekonomi (pengembangan pariwisata).

Dengan sosialisasi ini Hanang mengharapkan generasi muda dapat berpartisipasi untuk menjaga dan memeliharanya mengingat setiap empat tahun sekali UNESCO akan mengevaluasi keberadaan Global Geopark Network ini dan akan  berlaku aturan sebagaimana dalam permainan sepakbola ada kartu merah (keluar dari GGN), kartu kuning (diberi waktu dua tahun untuk memperbaiki kekurangan) dan kartu hijau (pengakuan GGN berlanjut). Selain itu pada akhir paparannya Hanang menegaskan bahwa keberadaan kawasan geopark dari sisi ekonomi lebih menjanjikan hasilnya bagi kesejahteraan masyarakat dan berkelanjutan dibandingkan dengan pertambangan.

Sesuai dengan keterangan panitia kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 24 Agustus 2016 di Balai Pertemuan Goa Pindul, Bejiharjo, Karangmojo dengan peserta terdiri dari pelajar dan guru pembimbing geografi dari sekolah yang berada di wilayah Kecamatan Karangmojo.(soera)