Gunungkidul – Pada hari Kamis (9/6/2016), bertempat di Balai Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari diselenggarakan Penilaian Perlombaan Desa Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2016. Sebagaimana Desa Baleharjo terpilih mewakili Kabupaten Gunungkidul dalam lomba desa tingkat provinsi, setelah sebelumnya menjadi juara pertama di tingkat Kabupaten.
Hadir dalam acara tersebut Gubernur DIY yang diwakili oleh Kepala BPPM DIY, Wakil Bupati Kabupaten Gunungkidul, Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul yang diwakili oleh Pimpinan Komisi C, DPRD Gunungkidul, Muspida, Ketua Tim Penggerak PKK, Muspida, SKPD serta warga Desa Baleharjo.


Dalam sambutannya, Kepala Desa Baleharjo, Agus Setyawan, SE menjabarkan tentang Strategi, Visi dan Misi Desa Baleharjo. Strategi Baleharjo adalah Etos Kerja, Kerukunan dan Kebersamaan dalam Membangun Desanya. Sehingga dapat mewujudkan Visi untuk membangun desa yang maju dan makmur dalam suasana kekeluargaan.
Desa Baleharjo ingin membangun desanya dengan filosofi yang digunakan Presiden Jokowi, yaitu Revolosi Mental, banyak orang pintar di desanya tetapi hati nuraninya kurang, banyak orang yang tidak punya hati nurani, banyak orang pandai tapi tidak diberikan kesempatan, kata Agus.
Agus menambahkan mengenai pembangunan fisik yang ada di desa kami, 80% dilakukan secara gotongroyong, sehingga bisa menghemat 50% swadaya desa. Karena upah tenaga kerja yang diberikan untuk masyarakat Desa Baleharjo, dikembalikan lagi ke desa untuk membeli Material. Intinya desa kami penuh dengan kerukunan dan gotong royong, imbuhnya.
Wakil Bupati Gunungkidul, Dr. Immawan Wahyudi, MH, mengapresiasi sambutan Kepala Desa Baleharjo, yang visioner, paham betul arti pembangunan desa. Dengan pidato yang luar biasa ini, kalau tidak juara ya kebangetan, kata Dr. Immawan. Selanjutnya Beliau mewakili Bupati Gunungkidul untuk memberikan sambuatan. Atas nama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas perhatian dan kehadiran Ketua beserta seluruh anggota TIm Penilai Perlombaan Desa Tingkat DIY Tahun 2016. Kami berharap kehadiran Tim di Kabupaten Gunungkidul dapat berdampak positif dalam rangka menguak serta memotivasi semangat masyarakat.
Perlombaan ini telah menjadi media yang efektif untuk mengevaluasi dan menilai serta memberikan masukan-masukan berharga bagi peningkatan kinerja pemerintahan desa maupun partisipasi masyarakat terhadap kegiatan pembangunan desa. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus berupaya untuk meningkatkan kinerja pemerintahan desa guna merealisasikan motto: “Desa Makmur Gunungkidul Makmur” dengan harapan pembangunan dimulai dari desa, hingga tingkat Kabupaten.
Rombongan Tim Penilai Perlombaan Desa Tingkat DIY Tahun 2016, melibatkan 11 stakeholder, yaitu dari POLDA DIY, Bappeda DIY, BPBD, Disdikpora DIY, Dinkes DIY, Diskominfo DIY, Dinas Koperasi UMKM DIY, Biro Admistrasi Pembangungan Kesra Setda DIY, Biro Tapem DIY, Tim Penggerak PKK, dan BPPM DIY. Dalam kesempatan ini, Gubernur DIY berhalangan hadir karena ada acara yang bersamaan, dan diwakili oleh Kepala BPPM DIY, dr. RA Arida Oetami, M.Kes. Dalam sambutannya Gubernur DIY, berpesan bahwa Perlombaan Desa ini jangan hanya sebagai ajang untuk mendapatkan juara, tetapi untuk memajukan pembangunan desa, mengembangkan potensi desa sebagai bentuk evaluasi perkembangan desa dan kelurahan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri.
RA Arida menambahkan lomba desa ini bukan hanya sebagai kegiatan rutin tahunan semata, tetapi output yang diharapkan harus mampu mengubah etos kerja masyarakat, serta merupakan proses untuk penguatan kelembagaan desa.

Tim Penilai harus obyektif dalam memberikan penilaian untuk menilai pemenang lomba Desa se-Kabupaten/Kota DIY, yang nantinya pemenang Tingkat DIY akan maju dalam Lomba Desa Tingkat Regional. Jadi benar-benar dipilih yang terbaik karena mempertaruhkan nama DIY, jadi jikalau nanti desa Baleharjo menang, jangan sampai memalukan nama DIY.

Penilaian dilakukan dengan kunjungan lapangan ke kepala desa, sistem admistrasi desa, masuk ke ruang pemerintahan, Karang Taruna, PKK dll. Selanjutnya penilaian dilakukan dengan kunjugan keliling ke padukuhan Mulyosari, Gedangsari, dan Rejosari, untuk melihat potensi peternakan (sapi) dan hasil olahan pertanian yang ada di sana. (hari/foto:Andre)

