[PIC2]
Gunungkidul- 500 paket ikan tuna segar di berikan untuk masyarakat, hal ini dilaksanakan dalam rangka Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) yang digelar di Kalurahan Selang, Kapanewon Wonosari, serta Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo, Jumat (26/9/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hedi Soeharto, yang turun langsung membagikan paket ikan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan untuk melawan stunting.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa potensi perikanan di Gunungkidul tidak boleh dipandang sebelah mata.
“Selama ini orang mengenal Gunungkidul dari pariwisata dan pertanian, tapi kami juga punya kekuatan di sektor perikanan, baik tangkap maupun budidaya,” ujar Endah.
Ia menekankan Safari GEMARIKAN menjadi momentum penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa ikan adalah sumber gizi berkualitas.
“Kegiatan ini strategis karena sejalan dengan upaya penurunan stunting. Ikan adalah sumber protein hewani yang murah, mudah diolah, bergizi tinggi, dan sangat baik untuk perkembangan otak anak,” tegasnya.
Bupati menambahkan, Pemkab Gunungkidul berkomitmen menjalankan intervensi gizi spesifik maupun sensitif.
“Kami lakukan langkah langsung seperti pemberian makanan tambahan, tablet tambah darah, hingga pemeriksaan status gizi. Di sisi lain, kami juga perbaiki sanitasi, akses air bersih, dan layanan kesehatan. Semua itu demi generasi Gunungkidul yang sehat, kuat, dan cerdas,” kata Bupati.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hedi Soeharto, mengungkapkan rasa syukur bisa hadir langsung mendampingi masyarakat Gunungkidul. Ia menyalurkan 500 paket ikan tuna segar serta 3 jenis olahan ikan masing-masing 500 paket dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Program ini bukan hanya edukasi pentingnya makan ikan, tapi juga semangat bersama membangun generasi sehat. Di Gunungkidul angka stunting masih 21%. Artinya, satu dari lima anak berisiko pertumbuhan terhambat. Padahal kita punya ikan, makanan murah, mudah diolah, dan gizinya tinggi,” ujar Titik.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan konsumsi ikan sebagai budaya keluarga.
“Biasakan makan ikan setiap hari walau sederhana. Pastikan ibu hamil dan balita cukup makan ikan. Dorong sekolah dan posyandu memberi edukasi, hidupkan usaha kecil olahan ikan, dan jadikan makan ikan sebagai budaya,” tegasnya.
Staff Ahli Menteri Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga KKP, Victor Gustaaf Manopo, menegaskan Safari GEMARIKAN bukan sekadar seremonial, tetapi program nyata yang langsung menyentuh masyarakat.
“Program ini langsung dikawal oleh mitra kita di DPR RI sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat, terutama ibu hamil dan balita. Target kita jelas, tahun 2045 Indonesia harus bebas dari stunting,” kata Victor.
Ia mengingatkan, penyebab stunting bukan sekadar kekurangan makan, melainkan kualitas gizi yang belum terpenuhi.
“Di Gunungkidul status gizi masih perlu ditingkatkan. Konsumsi ikan masyarakat baru 31,4 kilogram kg per kapita per tahun, padahal produksi ikan cukup melimpah hingga 12 ribu ton per tahun. Jadi tugas kita bagaimana protein dari ikan bisa dinikmati keluarga setiap hari,” ujarnya.
Victor juga mengajak masyarakat untuk bangga dengan potensi lokal.
“Gunungkidul punya laut, punya pelabuhan Sadeng, dan budidaya lele yang sangat produktif. Jangan sampai ikan hanya jadi komoditas, tapi harus hadir di meja makan warga setiap hari. Dari sinilah kita bisa membangun generasi sehat dan kuat,” tegasnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R Hery Sulistio Hermawan, mengungkapkan tren konsumsi ikan di Gunungkidul menunjukkan peningkatan cukup pesat dalam 10 tahun terakhir. Namun, percepatan masih dibutuhkan agar manfaat gizi ikan bisa lebih merata.
“Kalau kita lihat, konsumsi ikan masyarakat DIY rata-rata 36,3 kilogram per kapita per tahun, sedangkan Gunungkidul masih 31,4 kilogram. Angka ini sudah menggembirakan karena terus naik, tapi kita ingin dorong lebih cepat lagi,” kata Hery.
Ia menegaskan ada tiga hal yang kini jadi fokus utama.
“Pertama ketersediaan, bagaimana kita pastikan produksi ikan dari budidaya maupun tangkap tetap stabil. Kedua soal aksesibilitas, jangan sampai ikan hanya tersedia di pusat produksi tapi harus merata sampai ke masyarakat. Ketiga pemanfaatan, bahwa ikan yang diproduksi benar-benar dikonsumsi sehingga memberi dampak nyata bagi kesehatan,” jelasnya.
Hery juga menyinggung keunggulan lokal Gunungkidul.
“Di sini ada pelabuhan Sadeng yang menyumbang lebih dari 67% produksi ikan tangkap di DIY, serta budidaya lele dengan sistem terpal yang jadi andalan. Ini potensi luar biasa yang harus terus dikembangkan,” ucapnya.

