Festival pedalangan merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Festival Dhaksinarga 2017 yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 November. Bertempat di Bangsal Sewokoprojo, pergelaran lomba ini dibuka dengan pertunjukan lakon “Seto Sang Senopati” yang dimainkan oleh Ki Dalang Bayu Asmoro dari Kecamatan Girisubo.
[PIC1]Kepala Bidang Adat dan Tradisi, Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Ristu Raharjo menjelaskan bahwa festival ini menggali potensi seni pedalangan di Gunungkidul. Sehingga dengan adanya festival pedalangan dapat bermanfaat untuk pelestarian seni budaya. “Pelestarian budaya mempunyai unsur perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan, festival pedalangan memberikan ruang dan waktu bagi para dalang untuk dapat mengekspresikan seni dan ketrampilan yang dimiliki”, tambahnya.
[PIC2]Festival ini memperlombakan kategori anak, remaja dan dewasa. Puluhan dalang bersaing untuk memperebutkan piala, piagam, uang pembinaan serta tropi bergilir Bupati Gunungkidul untuk kategori dewasa. Untuk kriteria penilaian, dalang dituntut mampu mengolah cerita wayang dalam sajian pakeliran padat (crita), keterampilan, keluwesan joged dan gerakan wayang (sabet), penjiwaan tokoh wayang (antawecana) dan pengetahuan gendhing (gendhing).
Dalam seni pedalangan, Kabupaten Gunungkidul mempunyai potensi yang cukup banyak, dan mempunyai banyak prestasi di tingkat nasional, diantaranya pemegang predikat dalang mumpuni atas nama Gilang Thomas Kumoro, serta dalang anak cerita terbaik atas nama ananda Fajar Satriyo Widayatmo.
Berikut susunan acara lomba seni pedalangan.
[PIC3]
[PIC4]
[PIC5]
(*tim_ikp)

