Gunungkidul – Simposium Walikota dan Bupati resmi diselenggarakan hari ini, Kamis, (22/08), di Hotel The Sunan, Surakarta.
[PIC1]
Kegiatan tersebut merupakan satu dari rangkaian kegiatan Civic Engagement 4.0: 2019 International Forum in Solo atau Pelibatan Masyarakat 4.0: Forum Internasional di Solo, 2019. Dijelaskan Ketua Panitia Penyelenggara, Paulista, Civic Engagement 4.0 (CE 4.0) adalah sebuah forum diskusi, berjejaring, dan bertukar ide, untuk inovasi dan solusi , serta tantangan partisipasi masyarakat dan teknologi di tingkat Asia Tenggara.
[PIC2]
Diskusi antar Pemerintah Daerah Indonesia dan dari negara di Asia Tenggara, termasuk interaksi dengan perwakilan organisasi masyarakat sipil, serta para akademisi, menggarisbawahi keyakinan penyelenggara bahwa untuk mewujudkan kota-kota yang lebih manusiawi, adil, dan berkelanjutan, diskusi, pertukaran ide, kritik, dan kolaborasi pemerintah dengan masyarakat perlu dilaksanakan dan dilestarikan.
Berbagai hasil dan capaian dari rangkaian acara tersebut diharapkan akan memantik diskusi lebih dalam tentang praktik-praktik baik, melanggengkan kolaborasi antar pihak, serta berkesempatan mempengaruhi pengambilan kebijakan untuk arah pembangunan yang lebih berkelanjutan, manusiawi, dan adil.
Narasumber Simposium termasuk Wali Kota Surakarta, F.X Hadi Rudyatmo, Wali Kota Banjarmasin, H. Ibnu Sina, Bupati Mataram H. Ahyar Abduh, Bupati Lombok Utara H. Najmul Akhyar, Bupati Lombok Timur, H.M. Sukiman Azmy, Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, diwakilkan Wakil Bupati Dr. H. Immawan Wahyudi, M.H., dan Pongsak Yingchun Charoen, Walikota Provinsi Yala Thailand. Kegiatan ini diorganisir oleh Chulalongkorn University Thailand, Yayasan Kota Kita, Solo dan Indonesian Consortium for Religious Studies konsorsium tiga universitas, yakni; Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, dengan dukungan dari Pemerintah Kota Surakarta dan para mitra penyelenggara.
“Semua kota-kota di dunia saat ini menghadapi tantangan berat dengan berbagai perubahan demografi, konstelasi politik, ekonomi dan budaya yang cepat. Belum lagi menghitung pengaruh perubahan iklim terhadap semua lini kehidupan masyarakat kita. Simposium ini bertujuan untuk membangun komunikasi dan saling tukar pandangan dan pengalaman menyangkut isu-isu terkait dengan martabat manusia, keadilan sosial dan keberlanjutan.” kata Dr. Dicky Sofjan, Core Doctoral Faculty, Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS)
Melalui pemaparan para narasumber, Simposium Bupati dan Walikota menyoroti tantangan unik yang dihadapi oleh pemerintah kota dan kabupaten dalam masyarakat yang berubah dengan cepat, dan fokus pada praktik yang baik dan solusi inovatif yang dimiliki para pemimpin dalam menyelesaikan masalah ini. Menggunakan kerangka pikir untuk keberlanjutan, keadilan, dan pintar (sustainability, justice, smart), para Walikota memaparkan pengalaman dan tantangan yang dialami di kota masing-masing.
Walikota Surakarta memaparkan visi tentang Solo kota budaya, mandiri, maju, dan sejahtera, lewat misi Walikota untuk masyarakat yang “Waras, wasis, wareg, mapan, papan”, yang menitikberatkan kepada pengembangan kesejahteraan manusia sejak lahir hingga usia lanjut, sebagai kunci utama pembangunan kota yang adil dan ramah.
Pada kesempatan yang sama Wakil Bupati Gunungkidul, Dr. H. Immawan Wahyudi, M.H., memaparkan memaparkan visi dan misi, serta inovasi-inovasi dan capaian pembangunan yang ada di Kabupaten Gunungkidul secara umum, dibawah kepemimpinan Bupati Hj. Badingah, diantaranya Sistem Inovasi Desa (SID), pencegahan perkawinan usia dini (Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting) serta pemenuhan tentang hak penyandang Disabilitas.
Wakil Bupati Immawan juga berbagi pengalaman tentang usaha-usaha perbaikan dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun Gunungkidul.
“Saya berharap forum yang sangat baik ini bisa berkembang menjadi platform tingkat regional untuk saling belajar, berkegiatan dan advokasi guna mencapai masyarakat yang bermartabat, berkeadilan, dan berkelanjutan,” kata Immawan kepada awak media.
Selain sesi pemaparan inovasi, para kepala daerah terlibat diskusi bersama para perwakilan organisasi masyarakat sipil dari berbagai latar belakang sektor, termasuk organisasi penyandang disabilitas, organisasi keagamaan, periset dan akademisi dari dalam dan luar negeri di bidang sosial budaya, keamanan dan ketahanan, dan etika.
Para perwakilan dari organisasi masyarakat sipil termasuk Risnawati Utami, Founder OHANA Indonesia and Komite UNCRPD 2019-2022, Dr. Sukanda Luangon Lewis, Direktur Program, Development of Creative Tourism, Chulalongkorn University, Dr. Arif Maftuhin, Dosen, Ketua Pusat Layanan Disabilitas, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Dr. Elise Edwards, Profesor Keagamaan, Baylor University, Amerika Serikat, Dr. IIyas Mohammed, Pengajar di bidang Kriminologi dan Keamanan, University of Liverpool, Singapura, Dr. Jeanny Dewayani, Associate Director, ICRS, dan Prof. Michael Northcott, Profesor agama dan ekologi, ICRS.

