Wakil Bupati:Jamaah diharapkan dapat memberikan contoh perihal kebersamaan.

Gunungkidul – Memasuki minggu terakhir Bulan Ramadhan 1440 H, antusias masyarakat masih nampak semangat Tarwih, seperti halnya jamaah pengajian Catur Madya, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, dalam pelaksanaan Nuzulul Quran, di Masjid Miftakhul Huda Padukuhan Gagan, Senin, (27/05) malam.

[PIC2]

Peringatan Nuzulul Quran diikuti empat padukuhan, meliputi padukuhan  Gebang, Gagan, Wungurejo dan Geger. Turut serta hadir dalam pengajian ini, Wakil Bupati, Dr. H. Immawan Wahyudi, M.H., Camat Nglipar, Drs. Sukamto bersama unsur Forkopimca Kecamatan Nglipar dan Ustadz H. Ngatemin, M.A., sebagai pembicara.

[PIC1]

Dihadapan wakil bupati dan jamaah, ketua panitia penyelenggara, Muryanto,  melaporkan jamaah pengajian Catur Madya dibentuk sejak  2002 lalu,  yang terdiri dari jamaah 6 masjid dari 4 padukuhan. Tujuan dibentuknya jamaah Catur Madya, adalah untuk menjaga agar tetap rukun dalam mengembangkan ukhuwah islamiah.

“Alhamdulillah kerukunan yang kami bangun terus terjaga, terbukti pemilu kemarin sangat damai aman, beda pilihan tetapi sangat kondusif”, ungkapnya.

Dirinya meyakini dengan terus membangun komunikasi yang baik kebersamaan akan terus terbangun, ketentraman umat akan terwujud.

Hal senada juga disampaikan Camat Nglipar Drs. Sukamto, kegiatan ini merupakan forum silaturahmi dalam rangka memupuk kesatuan dan persatuan umat. “Alhamdulillah malam ini kita dirawuhi (hadir)  Bapak Wakil Bupati, ini adalah wujud perhatian  perhatian pemerintah terhadap masyarakat dalam menyatukan dan membangun kebersamaan”, ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati, Immawan Wahyudi menegaskan, mengutip surat Al Muminun ayat 52 dan 53. Bahwasannya masyarakat harus bersatu membangun kebersamaan dengan guyub rukun. Terlebih dengan kemajuan Gunungkidul  saat ini masyarakat harus bisa lebih baik dalam kebersamaan, mengedepankan persatuan dan kesatuan. “Kebersamaan adalah satu faktor dari majunya Gunungkidul”, terang Immawan

Lebih jauh disampaikan, yang kuat dan hebat itu bukan dengan usaha kesendirian tetapi kehebatan itu diawali sebuah kebersamaan.

Kembali pada agama islam, Immawan Wahyudi berharap  jamaah dapat lebih memberikan contoh tentang kebersamaan, karena islam hanya satu dan tuhan kita satu. “Satukan dengan ukhuwah islamiyah, NU, Muhammadiyah, MTA, LDII itu islam dengan satu tujuan jangan membanggakan diri pada satu pemahaman, dan jangan merasa paling benar”, tegasnya. 

Dalam beragama tidak boleh merasa paling benar, tetapi kita diperbolehkan mengikuti ajaran islam apapun dengan sungguh-sungguh dan bukan aliran yang menyimpang yang menyalahi aturan.

Disambung H. Ngatemin, dalam tausiyahnya masih selaras dengan materi awal yang disampaikan wakil bupati, mengajak agar masyarakat dengan pemerintah bersatu membangun kebersamaan dalam membangun Gunung kidul yg lebih baik.

“Kebersamaan adalah anugerah dari Allah SWT, hal ini harus kita pupuk agar lebih baik”. (*tim_IKP)