[PIC1]Gunungkidul – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menerima kunjungan peserta Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan III Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Badan Diklat) DIY, di Bangsal Sewokoprojo, Selasa (24/6/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari studi lapangan yang menjadi tahapan penting dalam proses pelatihan kepemimpinan bagi para aparatur sipil negara (ASN).
Sebanyak 40 peserta PKP hadir dalam kegiatan ini, berasal dari Pemerintah DIY, Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Pemkab Kendal, Jawa Tengah, dan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Para peserta akan melakukan observasi dan diskusi mendalam di dua instansi lokus studi, yakni Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul.
Kepala Badan Diklat DIY, Amin Purwani, menyampaikan bahwa studi lapangan merupakan bagian integral dalam pelatihan kepemimpinan, yang dirancang untuk memberikan pengalaman nyata dan pemahaman kontekstual terhadap tantangan pelayanan publik.
“Melalui studi lapangan, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan, merumuskan solusi inovatif dan menyusun rekomendasi yang aplikatif untuk perbaikan kinerja di instansi masing-masing,” jelas Amin.
Ia menambahkan bahwa Gunungkidul dipilih karena relevansi temanya yang kuat, yakni “Pengelolaan Wisata Budaya”, serta potensi dan kompleksitas yang dimiliki daerah ini dalam pengembangan sektor budaya dan pariwisata.
Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengucapkan terima kasih atas kepercayaan menjadikan Gunungkidul sebagai lokasi studi lapangan. Ia menekankan bahwa selain memiliki potensi wisata budaya yang kaya, keberhasilan pengelolaan sektor ini juga sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan.
“Gunungkidul ini kaya budaya dan wisata, tapi yang menentukan keberhasilan adalah pemimpinnya. Pemimpin sejati harus berani berbeda, berani melangkah lebih dulu, dan punya visi jauh ke depan,” ujar Bupati.
Ia berharap para peserta tidak hanya mencatat dan mengamati, tetapi juga menangkap nilai-nilai yang dapat diadopsi dalam konteks kerja mereka masing-masing.
“Studi lapangan bukan sekadar melihat, tetapi memahami dan menumbuhkan. Kami terbuka untuk berbagi praktik baik yang kami jalankan di Gunungkidul,” tambahnya.
Selama kegiatan, peserta akan berdiskusi langsung dengan mitra di lokus studi, mengidentifikasi tantangan aktual, dan menyusun aksi perubahan yang nantinya akan dipresentasikan di hadapan penguji. Rekomendasi dari studi lapangan ini juga akan dipaparkan kembali kepada narasumber di instansi tujuan untuk mendapatkan umpan balik.
Badan Diklat DIY menyebut studi ini difokuskan pada inovasi dan advokasi peningkatan pelayanan publik, serta menjadi bagian penting dalam pembelajaran berbasis pengalaman langsung.

