Perdana, Pemkab Gunungkidul Gelar Hari Nelayan Nasional 2025 bersama HNSI di Pantai Drini.

 

 

[PIC1]

Gunungkidul — Untuk pertama kalinya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Gunungkidul menggelar Peringatan Hari Nelayan Nasional Tingkat Kabupaten di Pantai Drini, Selasa (23/4/2025). Kegiatan ini menjadi momen bersejarah dan penuh makna dalam menghargai jasa para nelayan yang telah berperan besar menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan laut selatan Gunungkidul.

 

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, Ketua DPD HNSI DIY Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul Muhammad Johan Wijayanto, serta ratusan perwakilan nelayan dari berbagai pantai di Gunungkidul seperti Sadeng, Siung, Nampu, Drini, Ngandong, Baron, Ngrenehan hingga Gesing.

 

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan,Muhamad Johan Wijayanto menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sebagai seremoni, tetapi sebagai bentuk penghargaan atas jasa para nelayan yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi menjaga ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir.

 

“Kita ingin membangun rasa bangga dan kebersamaan di antara nelayan Gunungkidul. Peringatan ini juga menjadi ruang sinergi lintas sektor, serta momentum meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan nelayan,” ujar Johan.

 

Kegiatan ini juga diisi dengan layanan kesehatan gratis, servis mesin kapal secara gratis oleh PT Yanmar, bantuan premi BPJS Ketenagakerjaan, demo masak olahan ikan tuna oleh DKP, serta pelepasliaran benih bening lobster sebagai bentuk konservasi sumber daya laut.

 

Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro 

dalam sambutannya menyampaikan kebanggaannya atas kehadiran penuh jajaran Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam acara ini sebagai wujud perhatian terhadap masyarakat nelayan. Ia menegaskan bahwa nelayan Gunungkidul memiliki daya juang yang luar biasa dan mampu bersaing di level nasional meskipun menghadapi tantangan geografis yang berat.

 

“Topografi Gunungkidul itu tidak seperti daerah lain. Saya berani katakan, nelayan kita ini bisa diadu dengan nelayan nusantara lainnya,” ujarnya.

 

KPH Wironegoro juga menyampaikan perjuangannya 15 tahun lalu mengenalkan ikan layur dan gurita Gunungkidul ke pasar internasional seperti Jepang dan Korea. Kini, ikan-ikan yang dulunya tidak memiliki nilai ekonomi telah menjadi komoditas unggulan berharga tinggi.

 

Ia mengajak semua pihak untuk lebih mencintai hasil laut Gunungkidul dan mendorong wisatawan untuk menghormati kawasan pesisir, tidak sekadar datang dan meninggalkan jejak tanpa kontribusi berarti. Ia berharap ada perubahan besar dalam cara wisatawan menghargai ekosistem pesisir dan hasil tangkapan laut.

 

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutannya mengapresiasi semangat nelayan Gunungkidul dan menekankan pentingnya perlindungan dari jeratan rentenir.

 

“Pak Johan, tolong identifikasi nelayan kita. Jangan sampai nelayan terjerat rentenir. ” tegasnya.

 

[PIC3]

Lebih lanjut Bupati menambahkan Pemerintah juga terus mendorong transformasi sektor perikanan, termasuk melalui digitalisasi sistem pembayaran QRIS di TPI, layanan kesehatan, perlindungan kerja, dan pemberdayaan kelembagaan nelayan. Bupati menegaskan komitmen agar nelayan tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas dan makin berdaya.

 

“Laut telah memberikan rezeki bagi masyarakat kita. Sudah saatnya kita menjaga keberlanjutan, memperkuat perlindungan, dan memastikan nelayan tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas,” tambah Bupati

 

Acara ditutup dengan penyerahan berbagai penghargaan dan simbolisasi program kerja, antara lain penyerahan kartu BPJS Ketenagakerjaan, QRIS BPD, piagam kenaikan kelas kelompok nelayan, serta penghargaan bagi KUB, TPI, dan kelompok penyumbang PAD terbaik.