Gunungkidul – Bupati Gunungkidul, Sunaryanta menghadiri upacara adat bersih desa di tiga kapanewon.
Diantaranya Gedangsari, Saptosari dan Kapanewon Paliyan.
Pertama bupati mengikuti kegiatan bersih desa / rasul di Gubug Gede, Ngalang, Gunungkidul. Kegiatan diawali dengan pawai budaya yang diikuti oleh 14 padukuhan.[PIC2]
Lurah Ngalang, Gedangsari Suharyanta mengatakan, tahun ini tema yang diambil Golong Gilik Anggayuh Raharjo.
“Dapat kita artikan kebersamaan, bersatunya masyarakat dan pemerintah desa,” paparnya dalam sambutan, Minggu (25/6/2023).
Rangkaian kegiatan Rasul Gubuk Gede diisi berbagai kegiatan masyarakat diantaranya Gelara Potensi Budaya dengan peserta masyarakat antar padukuhan dan Mujahadah.
Selanjutnya bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengikuti kegiatan rasul di Padukuhan Pakel, Kalurahan Planjan, Saptosari. Rasul digelar di balai padukuhan setempat.
Dalam kegiatan ini masyarakat sangat antusias menyambut kedatangan orang nomor satu di Gunungkidul. Meski digelar sederhana namun upacara adat ini berlangsung sangat khidmat.
“Baru kali ini rasulan didatangi bupati. Seneng rasanya berharap pembangunan didusun ini maju,” kata Mbah Mugi, tokoh masyarakat setempat.
Selanjutnya Bupati Gunungkidul, Sunaryanta membuka kirab budaya di Kalurahan Mulusan, Kapanewon Paliyan. Ratusan masyarakat mengambil start di lapangan kalurahan untuk mengikuti kirab budaya.
Lurah Mulusan Supodo mengatakan, pawai budaya menampilkan potensi yang ada di kalurahan tersebut. Meski belum ditetapkan sebagai kalurahan budaya masyarakat berkomitmen tetap mengembangkan budaya yang ada.
“Meski belum masuk desa rintisan budaya, kita tetap berkomitmen mengembangkan budaya,” paparnya.
Kirab budaya Kalurahan Mulusan dibuka oleh Bupati Guningkidul ditandai dengan pemukulan gong. Berbagai atraksi kesenian dihadirkan untuk menghibur masyarakat.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta meminta agar tradisi Rasulan ini terus dipertahankan. Sebab menurutnya, tradisi ini menjadi karakter dan ciri khas dari masyarakat Gunungkidul.[PIC3]
“Tradisi ini beserta gotong-royongnya menjadi modal besar yang dimiliki Gunungkidul,” kata Sunaryanta.

