Bupati Buka Sekolah Lapang Iklim Operasional BMKG di Gunungkidul

Gunungkidul– Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S.Sos hadir dan membuka Sekolah Lapang Iklim Operasional Badan Meteorologi dan Geofisikan(BMKG) DIY, di Balai Desa Gubug Gedhe Gedangsari, Senin(24/8).

Luas wilayah Kabuaten Gunungkidul 1.485,36 km2 atau sekitar 46,6 % dari luas DIY sedangkan Geografis Gunungkidul yang didominasi lahan pertanian tadah hujan yang mencapai 97%. dengan 70% penduduknyanya adalah petani. yang tergantung pada iklim dan cuaca serta curah hujan.[PIC2]

Sekolah Lapang Iklim Operasional ini bertujuan tujuan untuk meningkatkan pengethuan dan ketrampilan bagi petani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) maupun kepada Instansi terkait dalam memanfaatkan informsi iklim guna melakukan antispasi dampak fenomena iklim ekstrim yang dilaksanakan menggunakan pembelajaran leraning by doing maupun virtual. sehingga harapnya dapat lebih mengenal unsur cuaca dan iklim beserta alat ukurnya dan pemahaman iklim.

Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S.Sos dalam sambutanya mengatakan masyarakat Indonesia secara umum, termasuk yang berbasis budaya Jawa, selama ini memiliki kearifan lokal dalam membaca dan menyikapi iklim dalam mengusahakan pertanian, atau yang sering disebut “Pranata Mangsa”. Namun demikian, fenomena perubahan iklim yang dipengaruhi berbagai aspek dalam beberapa dekade terakhir, menjadikan perhitungan “mangsa” (mongso) pertanian dalam konteks budaya Jawa, seringkali sulit atau bahkan tidak efektif lagi untuk diterapkan.[PIC3]

Kondisi ini tentu perlu disikapi para petani dan penyuluh pertanian, terkhusus di wilayah kabupaten Gunungkidul, yang selama ini kondisi iklim sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha tani. Terlebih lagi, kondisi iklim yang berpengaruh langsung pada ketercukupan sumber daya air di sebagian besar wilayah Gunungkidul, perlu disikapi dengan pengetahuan tentang klimatologi, agar mampu merencanakan secara akurat, dalam tahapan-tahapan operasional usaha tani. Di sisi lain, kemampuan petani dan penyuluh pertanian dalam membaca fenomena iklim berkaitan dengan operasional pertanian, dapat meminimalisir potensi kegagalan pertanian, sehingga kapasitas dan kualitas produksi pertanian Gunungkidul dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. dengan sekolah lapang ini tentu akan memberi dampak pada sektor pertanian sehingga meningkatkan usaha tani Gunungkidul.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Ir. Bambang Wisnubroto dengan melihat curah hujan yang fluktuatif sejal 2010 – 2020, dan perkiraan BMKG hujan akan turun pada bulan okotber dasarian III dan awal november dasarian I masuk musim hujan, dengan curah hujan 30-250 mml. Dengan sekolah lapang ini menjadi ilmu yang dapat di aplikasikan dalam pertanian. meskipun sebagian masyarakat masih menerapkan kalender pranotomongso, salah satu contonya masih ada petani yang menerapkan ngawu-awu ( tanam padi sebelum waktunya ). “cara ini jika pas tidak masalah namun jika tidak pas dan belum turun hujan secara rutin, maka akan terjadi kegagalan, sehingga perlu disandingkan menerapkan pengetahuan sekolah lapang ini dalam siklus pengelolaan pertanian” kata Bambang.

Kegiatan sekolah lapang Operasional dilaksanakan di 3 Kapanewon meliputi Kapanewon Rongkop yang dilaksanakan tanggal 13 Agustus dan kapanewon Ponjong dilaksankan tanggal 19 Agustus 2020 serta di Kapanewon Gedangsari dilaksanakan tanggal 24 Agustus 2020.

Peserta sekolah lapang melibatkan 30 orang dari unsur gabungan Kelompok Tani, PPL, POPT.
Acara yang dihadiri Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S.Sos, Kepala BMKG Prof. Ir. Dwi Korita Karnawati , M.Sc. P.hd Kepala BMKG DIY, Asisten III Ir. Anik Indarwati, MP. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Ir. Bambang Wisnu broto, Panewu Gedangsari, Forkopimpan dan Lurah.