Gunungkidul – Kondisi geografis Kabupaten Gunungkidul berupa pegunungan batuan karst yang kering dan tandus menyebabkan warga mengalami kesulitan air untuk minum terutama di saat musim kemarau tiba. Pelaksanaan program nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) tahap ke III untuk 15 desa di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2018 lalu diharapkan mampu mengatasi permasalahan jumlah ketersediaan fasilitas pelayanan air minum berkualitas dan sanitasi yang baik serta meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
[PIC2]
Peresmian Sarana Air Minum yang ada di Padukuhan Sumberrejo Karangmojo oleh Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos, pada Rabu siang (30/01) sekaligus menandai telah selesainya pelaksanaan Program Pamsimas III Tahun Anggaran 2018 di 15 desa di Kabupaten Gunungkidul. Peresmian Sarana Air Minum tersebut juga dihadiri oleh ROMS 8 DIY, Pokja AMPL, PAKEM, DPMU, Pemerintah Desa, Kelompok Kerja Masyarakat , Satuan Pelaksana, dan Tim Pendamping Program Pamsimas III Kabupaten Gunungkidul.
[PIC3]
Bupati Badingah pada kesempatan tersebut mengapresiasi hasil kinerja dan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang terlibat atas komitmennya untuk terus berupaya mewujudkan pembangunan instalasi maupun jaringan sarana air minum untuk masyarakat Gunungkidul.
Hal ini selain membantu Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat, juga secara langsung ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang selama ini kesulitan airbersih.
Dipertengahan sambutannya, Bupati Hj.Badingah menceritakan kondisi beberapa puluh tahun lalu Gunungkidul sempat dilanda kekeringan akibat penebangan hutan yang berdampak pada rusaknya sumber mata air. Namun dengan keberhasilan pembangunan sektor pertanian dan kehutanan dalam pengelolaan lahan yang baik, Gunungkidul telah menjadi hijau kembali.
“Marilah kita warisi anak cucu kita dengan mata air tapi jangan dengan air mata,” katanya. Sejatinya, potensi air di Gunungkidul sangat lah besar, dengan kontur perbukitan karst yang membentang terdapat sungai bawah tanah yang dapat dieksplorasi untuk mengangkat air ke permukaan.
[PIC4]
Eko Wintanto selaku District Commite (DC) Kementerian PUPR menjelaskan pelaksanaan Program Nasional ini merupakan upaya untuk pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) di sektor air minum dan sanitasi yang berbasis masyarakat. “Pembiayaan program ini 12 desa dianggarkan melalui APBN dan 3 desa melalui APBD,” katanya.
Peresmian 15 Pembangunan Sarana Air Bersih dan Sanitasi, 12 dari dana APBN, 3 Desa dengan APBD, Total Dana APBN 3,675 M, APBDes 537, 2 Juta APBD 710 juta, swadaya masyarakat 840, 4 juta Masyarakat sasaran 4160 KK 14.403 jiwa.
Selain itu ada pula in-cash dan in-kind dari desa dan swadaya masyarakat sebesar 800 Juta rupiah, sehingga total keseluruhan mencapai 3,4 M. “Harapannya kedepan disaat musim kemarau tidak ada lagi dropping dan kekurangan air,” tambahnya.
Desa yang telah selesai melaksanakan program tersebut antara lain desa Karangmojo, Duwet, Semoyo, Umbulrejo, Desa Kedungkeris, Desa Nglipar, Pengkol, Jatiayu, Sidoharjo, Purwodadi, Giriasih, Giriharjo, Mertelu, Natah dan Desa Plembutan. Dari hasil pembangunan Sarana Air Minum tersebut, saat ini warga masyarakat dimasing-masing desa tersebut telah dapat merasakan ketersediaan air layak minum melalui Saluran Rumah (SR).(*tim_IKP)
Untuk video berita ini ditayangkan melalui Kanal Youtube Pemkab Gunungkidul

