Gunungkidul – Jumat, (13/07), Menteri Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia (RI), Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. Berkunjung ke Balai Peneitian Teknologi Bahan Alam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BPTBA LIPI) di Desa Gading, Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kunjungannya tersebut berkaitan dengan ditetapkannya BPTBA LIPI sebagai Lembaga Pusat Unggulan IPTEK Bidang Teknologi Pengemasan Makanan Tradisional Indonesia. Usai penandatanganan prasasti sebagai tanda peresmian, Mohamad Nasir mengatakan, ditetapkannya BPTBA LIPI sebagai lembaga Pusat Unggulan IPTEK Bidang Teknologi Pengemasan Makanan Tradisional Indonesia merupakan wujud keberpihakan pemerintah terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
[PIC1]
Pihaknya mengaku akan mendampingi UMKM dalam menyelesaikan permasalahan yang menghambat perkembangannya. Pihaknya mengklaim salah satu masalah UMKM berhasil diatasi berkat keberadaan BPTBA LIPI.
“BPTBA LIPI telah berhasil mengembangkan sistem pengawetan makanan dengan cara pengalengan olahan makanan tradisional. Sehingga keawetan produk UMKM yang mampu berumur cukup lama mempermudah dalam hal pemasaran,” katanya.
Lanjutnya, setelah dikalengkan, upaya pemasaran juga menjadi prioritas dampingan. Pihaknya juga mendorong agar produk lokal UMKM untuk masuk pasar-pasar modern. Seperti di swalayan, pusat perbelanjaan bandara dan lain-lain.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPTBA LIPI, Hardi Julendra S.Pt, M.Sc, menjelaskan, keunggulan dari teknologi pengemasan makanan tradisional ini yakni dapat awet namun tanpa bahan pengawet, dengan daya tahan hingga 1 tahun.
Lebih jauh disampaikan, teknologi pengemasan makanan tradisional merupakan salah satu teknologi unggulan di BPTBA LIPI. Teknologi ini telah melalui tahap riset pengemasan makanan tradisional sejak 2004 dan mulai digunakan oleh masyarakat khususnya UMKM sejak 2009.
“Teknologi ini menjadi solusi bagi pelaku UMKM kuliner tradisional. Sebab, biasanya produk kuliner lokal hanya bisa dinikmati oleh masyarakat di daerah asal kuliner tersebut. Dengan dikalengkan dapat dijual kemana saja,” tegas Hardi.
Saat ini teknologi pengemasan makanan tradisional sudah dimanfaatkan lebih dari 30 UMKM di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, juga telah dikembangkan setidaknya 42 jenis resep makanan tradisional khas Kuliner Tradisi Nusantara.
Pada kesempatan ini Wakil Bupati, Dr. H. Immawan Wahyudi, M.H., juga meminta dukungan kepada swalayan dan toko modern yang ada untuk ikut menjual produk-produk lokal tersebut dan meminta agar masyarakat lebih aktif mempromosikan melalui perkembangan teknologi informasi saat ini.

