Bupati Bersama GKR Mangkubumi Hadiri Gelar Bakti IMP dan Deklarasi Germas Bersama Ngayogjokarto

Gunungkidul – Gelar Bhakti Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) dan Deklarasi Germas bersama Ngayogjokarto diadakan di Bangsal Sewoko Projo, Kamis, (22/11). Acara ini fokus membahas tingginya angka perceraian, dan angka bunuh diri di Gunungkidul serta tingginya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di DIY.

[PIC3]

Kegiatan dihadiri Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Ketua Koalisi Kependudukan DIY Dr Pande Made Kutanegara, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) Sujoko MSi dan undangan. Bersamaan dikukuhkan Pengurus Koalisi Kependudukan Gunungkidul periode 2018-2022.

[PIC2]

Ketua Majelis Kependudukan DIY GKR Mangkubumi menuturkan melalui pengukuhan pengurus di Gunungkidul diharapkan akan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Baik itu kenakalan remaja, narkoba, maupun yang lain. Melalui pendampingan dan penguatan, tentu akan terbentuk keluarga yang optimal. Sehingga remaja akan termotivasi dan tidak terjerumus dalam hal-hal negatif. “ Termasuk permasalahan ‘klitih’ membutuhkan penanganan yang serius,” ucapnya.

Menurut dia, keluarga adalah tempat berkumpul bagaimana kualitas keluarga yang menjadi prioritas.

Ditempat yang sama, Hj. Badingah, S.Sos, Bupati Gunungkidul menyampaikan dengan adanya Gelar Bakti Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) dan Deklarasi Germas bersama Ngayogjokarto bisa memecahkan permasalahan ketahanan keluarga.

Selama ini sudah mulai hilangnya rasa hormat, semakin hilangnya kehangatan maupun kebersamaan dalam keluarga, yang akhirnya diindikasikan meningkatnya kasus perceraian di Gunungkidul.

Menurut data dari Pengadilan Agama Gunungkidul, lanjut dia, sampai dengan pertengahan bulan November 2018 ini mencapai 1.453 kasus perceraian.

”Namun yang paling mengkhawatirkan angka Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di DIY yaitu 9,7% melebihi angka rata-rata Nasional,” terang Badingah.

Dengan angka melebihi angka rata-rata Nasional, ia juga ikut merasa prihatin. Selain ODGJ, Gunungkidul juga dikenal dengan angka bunuh diri yang cukup tinggi.

Menurut para ahli kejiwaan dan data dari Polres Gunungkidul tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul sampai bulan Oktober 2018 mencapai 21 kasus, dengan berbagai hal penyebab.

Diharapkan dengan acara ini bisa mencari penyebab dan mendapatkan konklusi yang memuaskan. “Sehingga kita mendapatkan referensi penentu kebijakan dalam mengambil langkah pencegahan bunuh diri di Gunungkidul,” pungkasnya.