Waspadai Gelombang Tinggi di Kawasan Pantai Selatan Gunungkidul

Gunungkidul – Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Yogyakarta diperkirakan mulai Sabtu, (03/06 hingga 08/06) akan terjadi  Peningkatan curah hujan di awal bulan Juni 2017 yang dipicu oleh adanya pergerakan gelombang atmosfer sepanjang khatulistiwa yang dikenal sebagai Madden Julian Oscillation (MJO). Diprediksi gelombang tersebut masih terus merambat ke wilayah timur Indonesia sampai lima hari ke depan, sehingga memicu peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Selain memicu hujan lebat, Gelombang tinggi juga terjadi di beberapa perairan Indonesia seperti Laut Banda, Laut Arafuru, Laut Timor, Perairan Selatan Jawa hingga P. Sumba dengan ketinggian berkisar 2 sampai 4 meter.

Di kawasan pantai wilayah Kabupaten Gunungkidul peningkatan gelombang air laut sudah mulai nampak, disampaikan oleh koordinator SAR Pantai Baron, Marjono bahwa mulai hari Minggu (04/06) kira-kira pukul 17.00 wib sudah mulai terlihat ada perubahan dan diperkirakan puncaknya akan terjadi pada Senin siang dengan tinggi gelombang akan mencapai 17 fiet, terangnya.

Mitigasi yang telah di lakukan SAR adalah memberi informasi kepada masyarakat pesisir dan pengunjung baik melalui media sosial maupun pengeras suara, terutama di titik-titik pendaratan kapal. Dan terpantau pada minggu malam hari semua kapal dipantai Baron sudah di naikan semua juga kawasan pantai yang lain semua sudah di amankan dari area yang dimungkinkan akan terkena gelombang air laut

[PIC1]   [PIC2]

Pemerintah Daerah melalui Kepala BPBD Gunungkidul, Budiarjo, menghimbau kepada seluruh warga masyarakat dan wisatawan tetap diminta waspada dan berhati hati bila berkunjung dikawasan pantai untuk beberapa waktu kedepan karena gelombang pantai diperkirakan akan tinggi. Termasuk di bukit yg sudah ada rambu-rambu rawan longsor perlu diwaspadai dan dihimbau agar lebih berhati-hati.

Tinggi gelombang di Wilayah pesisir selatan DIY di prakiraan akan mencapai 5 meter, hal ini di sebabkan karena adanya peningkatan kecepatan angin akibat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah barat daya Sumatera.(tim_ikp*)