Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Bidang Pemerintahan Sosial dan Budaya Bappeda Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka, SKM, MKes pada acara Forum e-Government Desa Se Kabupaten Gunungkidul, Selasa (2/8) di RR I Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul. ” Konsep Sistem Informasi Desa (SID) adalah 1 data untuk semua. Seperti diketahui desa merupakan sumber data tetapi ironisnya desa tidak bisa melihat data. Misalnya : desa tidak tahu berapa jumlah lulusan SMA, dan harus bertanya ke Dinas Pendidikan, atau untuk mengetahui potensi lahan harusnya desa mempunyai datanya tetapi ternyata tidak, ” jelas Priyanta.[PIC1]
Oleh karena itu untuk meningkatkan fungsi desa, SID dikembangkan dan diterapkan di Gunungkidul. Apalagi sekarang setiap desa di Kabupaten Gunungkidul telah mempunyai alamat domain sehingga setiap desa dapat menampilkan segala informasi terkait desanya. Layanan SID dengan sistem online dikenal cukup cepat dan akurat, karena di dalamnya tersimpan bank data yang senantiasa diperbaharui secara berkala. “Pemerintah Desa tidak akan kelabakan meladeni permintaan data oleh para pemangku kepentingan, meski permintaan tersebut dilakukan secara sangat mendadak,” tandasnya. Priyanta juga mengatakan bahwa di Gunungkidul sudah ada Tim 18 yang akan mendampingi setiap desa di Kabupaten Gunungkidul dalam menggunakan SID.” Kita juga akan mengkaji, hambatan ataupun kekurangan SID yang sekarang, sehingga kedepannya kita akan tahu permasalahannya dan akan kita tindak lanjuti baik untuk dukungan regulasi maupun penganggarannya, ” tambahnya.
Acara yang dibuka oleh Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Markus Tri Munarja, SIP,MSi ini dihadiri oleh perwakilan desa se Kabupaten Gunungkidul. Selain Bappeda yang menjadi narasumber antara lain dari PT Jasa Jejaring Wasantara (Pacific Link) Jakarta. ” Sekarang era nya digital, kita tidak lepas dari pemanfaatan TI, baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun untuk urusan pribadi. Namun dalam penggunaanya kita harus bijaksana, kita harus tahu kebenaran dari berita yang ada di sosial media tersebut benar atau tidak. Jangan sampai kita belum tahu benar atau tidaknya berita tapi kita langsung share ke pengguna lain,” jelas Markus.[PIC2][PIC3]
Sementara itu, Wawan dari PT Jasa Jejaring Wasantara menyampaikan tentang komunikasi data dan konsep internet ataupun intranet.” Data yang sudah dipublish ke internet itu adalah milik umum, setiap orang bisa menggunakannya. Makanya untuk data yang bersifat kedinasan lebih baik diletakkan di jaringan intranet. Sehingga tidak semua orang bisa menggunakannya,” tegasnya.
Acara diakhiri dengan pengundian doorprise, diantara voucher berlanggaran internet selama 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan, serta doorprise utama berupa 1 buah smarphone.(nana)

