Gunungkidul -Upaya pemerintah daerah menekan angka kecelakaan lalu lintas khususnya angkutan umum selalu dilakukan dengan berbagai upaya. Menjelang liburan tahun baru 2017, puluhan awak angkutan di Aula Terminal Dhaksinarga, Desa Selang, Wonosari menjalani tes kesehatan, Rabu (28/12/2016). Tes kesehatan yang diprakarsai Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Gunungkidul ini bertujuan unntuk memastikan kondisi kesehatan awak angkutan tetap sehat dan fit saat bekerja.
Tes kesehatan terhadap awak angkutan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Infomatika. Tes tersebut dilakukan untuk menghindari dan mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, mengingat menjelang tahun baru banyak peredaan minuman keras (miras) maupun narkoba yang diduga juga menyebabkan banyak terjadi kecelakaan hinga menyebabkan korban jiwa. [PIC2]
Dijelaskan Kabid Transportasi, Kuncoo bahwa tes kesehatan kali ini menyasar 60 awak angkutan AKAP dan AKDP serta pemeriksaan diantaranya gula darah, kolesterol, tensi, HIV AIDS serta nakotika dengan tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Dia memastikan, cek kesehatan yang dilakukan kali ini lebih detail untuk memastikan para awak angkutan terbebas dari narkoba atau pun minuman keras.
Kuncoro mengatakan, banyak penyakit yang berpotensi diidap oleh awak angkutan, mulai dari asam urat, hipertensi. Di pemeriksaan awal ini, kata Kuncoro, banyak kru yang menderita gejala darah tinggi. Rencananya hasil tes ini akan diserahkan ke masing-masing perusahaan otobus. Harapannya bisa ditindaklanjuti, salah satunya sebagai pertimbangan untuk tidak memberangkatkan awak angkutan yang kondisinya tidak fit.
Harapannya dengan tindak lanjut kegiatan ini dapat memberikan kepastian dan rasa nyaman kepada penumpang,” ungkap Kuncoro disela-sela cek kesehatan di Aula Terminal Dhaksinarga.[PIC1]
Kuncoro menambahkan, kebijakan tersebut sangat penting karena sektor angkutan umum ini masuk dalam pekerjaan yang rawan, terlebih lagi dalam prosesnya melibatkan orang banyak. “Jangan sampai awak angkutan yang berangkat tidak sehat dan tidak fit [khususnya sopir] karena ini sangat berbahaya bagi para awak sendiri dan juga penumpang,” pungkas Kuncoro. (marno/hari)

