Gunungkidul – Indonesia Smart Nation Award (ISNA) adalah penghargaan yang diberikan kepada daerah-daerah yang memiliki nilai tertinggi dalam Citiasia Smart Region model yang dikembangkan oleh Citiasia,Inc.
Citiasia Smart Region Model adalah model pembangunan daerah pintar yang dikembangkan oleh Citiasia,Inc. yang dibangun dari dua komponen utama, yaitu Smart Readiness Model dan Smart Region Model. Smart Readiness Model adalah model yang digunakan untuk mengukur kesiapan (capability level) sebuah daerah untuk menjadi Smart Region. Sedangkan Smart Region Model adalah model yang digunakan untuk mengukur kinerja (performance level) sebuah daerah pintar.
Sebanyak 45 Daerah di Indonesia menjadi nominasi peraih Indonesia Smart Nation Award (ISNA) 2016 yang diselenggarakan Citiasia Center for Smart Nation. Salah satu daerah penerima Nominasi Peraih Indonesia Smart Nation Award (ISNA) 2016 adalah Kabupaten Gunungkidul, yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
[PIC2][PIC1]
Peluncuran hasil studi Indonesia Smart Nation Index 2016 (Indeks Daerah Pintar 2016) sekaligus pengumuman daerah-daerah dengan raihan nilai indeks tertinggi, dilakukan pada Malam Penganugerahan Indonesia Smart Nation Award 2016 malam ini pada tanggal 29 November 2016 di Hotel Bidakara – Jakarta. Hadir dalam acara tesebut Menteri Kominfo, Menteri Pariwisata, para pejabat kementerian, para kepala daerah penerima penghargaan ISNA 2016, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dalam acara ini Citiasia Inc. juga akan melakukan peluncuran buku yang berjudul New Indonesia: Melesat Atau Kandas, Dari Smart City Menuju Smart Nation.
“Indeks ini mengukur kondisi seluruh daerah di Indonesia (34 provinsi, 412 kabupaten, dan 93 kota). Indeks ini diukur berdasarkan data terpublikasi dari berbagai sumber (data kementerian/lembaga, statistik wilayah seluruh Indonesia, web resmi Pemda) beserta analisis 72 media cetak nasional dan lokal serta 100 media online,” kata Founder & Chairman Citiasia, Dr. Cahyana Ahmadjayadi, di Jakarta.
Indonesia Smart Nation Index sendiri pada dasarnya dihitung dari dua indeks penyusun, yaitu indeks kesiapan menuju daerah pintar (Smart Readiness Index) dan indeks kinerja daerah pintar (Smart Region Index).
Tujuan dari disusunnya indeks ini adalah untuk menjadi salah satu acuan kondisi daerah-daerah untuk menuju Indonesia Smart Nation. Sedangkan manfaat bagi daerah sendiri dengan disusunnya indeks ini adalah sebagai alat ukur untuk melakukan inovasi-inovasi dalam pembangunan di daerahnya agar dapat menjadi daerah pintar (Smart Region).
Para dewan juri yang terlibat dalam pengukuran indeks ini adalah Prof. Dr. Marsudi W. Kisworo (Rektor Perbanas Institute), Prof. Dr. Eko Indrajit (Pakar ICT Indonesia ), Diah Indrajati (Dirjen Bina Bangda – Kemendagri), Hayu Parasati, MPS (Direktorat Perkotaan – Bappenas), Dr. Ashwin Sasongko S (Peneliti LIPI), Dr. Cahyana Ahmadjayadi (Founder dan Chairman Citiasia, Inc.), Eko B. Supriyanto (Pemred Majalah Infobank), dan Farid Subkhan (CEO Citiasia, Inc.)
Menurut Farid Subkhan, CEO Citiasia Inc., pemeringkatan ini bertujuan untuk melihat posisi kinerja daerah dan membantu meningkatkan daya saingnya secara nasional dan internasional. Terutama dalam membangun kesiapan daerah pintar “smart region readiness” dan membangun daerah pintar “smart region” yang maju, kreatif, dan berkelanjutan. Kesiapan daerah pintar terutama dalam penyiapan infrastruktur fisik, digital, dan sosial.
Kabupaten Gunungkidul sedang mempersiapkan diri dalam membangun Smart Region, yang dikenal dengan Gunungkidul Smart Village (GSV). GSV ini berawal dari konsep penataan SDM, inftastruktur desa, kelembagaan, supradesa di Kabupaten dengan tetap memperhatikan kultur (budaya) di Kabupaten Gunungkidul. (hari)

