Yogyakarta – Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam mengimplementasikan konsep “Gotong Royong Governance” sebagai strategi utama pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikan dalam Panel Forum bertajuk “Gotong Royong Governance – Menata Kembali Formasi Legitimasi dan Legalitas Demokrasi Lokal” yang diselenggarakan oleh Forum 2045 bekerja sama dengan Dewan Guru Besar dan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, Kamis (12/3).
Transformasi Kepemimpinan: Hadir Tanpa Sekat Bupati Endah menyatakan bahwa terhitung sejak Januari 2026, dirinya telah membuat kebijakan untuk tidak lagi berkantor secara formal di kantor bupati, melainkan hadir langsung di tengah masyarakat. Langkah ini diambil sebagai manifestasi dari semangat gotong royong yang menempatkan pemimpin sebagai bagian dari rakyat.
“Pembangunan tidak boleh hanya mengandalkan modal pemerintah, tetapi juga harus menggerakkan modal semangat patriotisme dan pengalaman rakyat,” ujar Bupati Endah mengutip pidato Bung Karno. Guna mendukung aksesibilitas warga, Pemkab Gunungkidul juga meluncurkan kanal “Lapor Bub”, sebuah saluran aspirasi langsung yang terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan untuk merespons persoalan warga secara cepat.
Capaian Kinerja dan Inovasi Lokal Melalui praktik gotong royong antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Kabupaten Gunungkidul mencatatkan sejumlah capaian signifikan:
Pertumbuhan Ekonomi: Mencapai 5,40%, menempati peringkat kedua tertinggi di DIY setelah Kabupaten Sleman.
Penurunan Kemiskinan: Gunungkidul berhasil keluar dari posisi kabupaten termiskin di DIY (kini di peringkat keempat).
Ketahanan Pangan: Menyuplai 30% kebutuhan beras DIY dengan surplus mencapai 125.000 ton per tahun.
Inovasi Sektoral: Pelaksanaan program “Lelaki Sintal” (Lele Lahan Kering Sistem Terpal) untuk mengatasi kendala air, serta kebijakan “Tali Asih” sebagai bentuk kehadiran negara bagi peternak yang sapinya mati akibat penyakit menular.
Perspektif Tokoh Nasional dan Akademisi Inisiatif Pemkab Gunungkidul mendapat apresiasi dan penguatan konseptual dari sejumlah tokoh yang hadir:
Dr. Arie Sujito (Wakil Rektor UGM): Menekankan bahwa gotong royong harus menjadi kekuatan emansipasi warga untuk mengoreksi kekeliruan demokrasi prosedural, dengan menempatkan rakyat sebagai subjek pembangunan.

Hilmar Farid, Ph.D. (Sejarawan): Menjelaskan tantangan dalam mentransformasi gotong royong dari sekadar etika sosial masyarakat menjadi sebuah arsitektur politik modern dan bangunan institusional yang inklusif.
Prof. Mukhtasar Syamsuddin (Guru Besar Filsafat UGM): Memaknai gotong royong sebagai way of thinking dan way of life yang menjaga keseimbangan antara hak individu dan kepentingan sosial sesuai Sila Kelima Pancasila.
Dr. Abdul Gaffar Karim (Pakar Politik UGM): Menawarkan konsep “Living Lab” sebagai ruang kokreasi untuk menjembatani antara legalitas hukum negara dengan legitimasi sosial di masyarakat agar pembangunan tetap berpijak pada mandat rakyat.
Keterbukaan dan Peran Pemuda Bupati Endah juga mengapresiasi peran aktif generasi muda, khususnya Karang Taruna, dalam mengawasi transparansi penggunaan dana desa. Beliau menegaskan bahwa suara kritis anak muda adalah modal penting bagi keberlanjutan kepemimpinan di masa depan.
Sebagai penutup, Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Muhammad Baiquni, mengajak seluruh elemen untuk melakukan revitalisasi kerja-kerja praktis yang dimulai dari Gunungkidul. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi aktif antara kampus, pemerintah, dan masyarakat untuk menjawab tantangan materialisme dunia melalui penguatan solidaritas sosial dan spiritualitas.

