Gunungkidul – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gunungkidul untuk menindaklanjuti hasil audiensi Bupati Gunungkidul dengan Menko PMK yang berlangsung pekan lalu. Kunjungan ini difokuskan pada penguatan dua sektor utama, yakni pendidikan dan kesehatan, guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.
Dalam sektor pendidikan, pemerintah pusat tengah mengkaji solusi bagi permasalahan sekolah di wilayah Wonosari dan Saptosari. Tim dari Kemenko PMK mengindikasikan adanya rencana untuk mengembangkan sekolah terintegrasi sebagai langkah strategis masa depan untuk mengatasi kendala pendidikan di daerah tersebut.
Antisipasi Krisis Kesehatan Mental
Isu kesehatan mental menjadi perhatian serius dalam kunjungan ini. Berdasarkan data, terdapat lebih dari 1.800 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Gunungkidul dengan angka rata-rata kasus bunuh diri mencapai 27 kasus per tahun. Menanggapi hal ini, Kemenko PMK bekerja sama dengan pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana menjadikan Gunungkidul sebagai proyek percontohan (pilot project) penanganan kesehatan jiwa.

“Kami ingin memastikan gangguan kesehatan mental tidak berdampak buruk pada generasi muda kita. Ini adalah langkah antisipasi global yang harus kita mulai dari tingkat daerah,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK, Prof. Sukadiono saat meninjau RSUD Saptosari.
Pihak Kemenko PMK juga memberikan apresiasi atas kesiapan RSUD Wonosari yang telah memiliki dua dokter spesialis jiwa serta fasilitas rawat jalan dan rawat inap yang sangat layak.
Perluasan Layanan Hemodialisa (Cuci Darah)
Selain kesehatan jiwa, pengembangan unit Hemodialisa (HD) atau cuci darah menjadi prioritas untuk menekan antrean pasien yang saat ini mencapai 278 orang. Rencana pengembangan mencakup RSUD Wonosari dengan Penambahan kapasitas hingga 20 tempat tidur (TT).
“RSUD Saptosari Pengembangan layanan di sektor selatan dengan target 10 tempat tidur.” ungkap Ismono selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.
Ia menambahkan Di RSUD Saptosari, fasilitas fisik dan instalasi oksigen sentral dilaporkan telah siap, sehingga langkah selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan tempat tidur rumah sakit (hospital bed). Kemenko PMK juga mendorong RSUD Saptosari untuk melakukan pengembangan dari rumah sakit Kelas D menjadi Kelas C dengan menambah unit layanan di berbagai aspek.
“Sebagai langkah konkret, Bupati Gunungkidul diarahkan untuk segera melakukan audiensi langsung dengan Menteri Kesehatan guna membahas kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM), seperti dokter spesialis, perawat, dan psikolog, serta pemenuhan kebutuhan obat-obatan jiwa yang mendesak.” kata Ismono saat ditemui seusai mendampingi Kunjungan Tim Menko PMK, bersama Bupati Gunungkidul di RSUD Saptosari, Selasa, (5/5/2026).
Pemerintah pusat berkomitmen untuk mengawal usulan pengadaan alat kesehatan dan renovasi fasilitas agar layanan kesehatan di Gunungkidul, terutama untuk layanan jiwa dan cuci darah, dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.