Menjaga Warisan Majapahit di Bumi Handayani, Tradisi Cing cing Goling di Gedangrejo

Gunungkidul – Terik matahari di siang hari Senin Wage, (6/7/2026), tidak menyurutkan semangat warga Padukuhan Gedangan 1, 2, dan 3 di Kalurahan Gedangrejo, Kapanewon Karangmojo. Ribuan warga berkumpul dalam balutan kekeluargaan untuk melaksanakan upacara adat Cing cing Goling, sebuah tradisi tahunan yang bukan sekadar rutinitas, melainkan manifestasi rasa syukur dan penghormatan terhadap sejarah panjang leluhur mereka.

Upacara ini dilaksanakan satu tahun sekali, tepatnya setiap masa panen padi kedua atau yang dikenal dengan istilah “mangsa kemareng”. Perayaan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang bahu-membahu menyiapkan kenduri dan sedekah berupa “sekul suci uluamsari” sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Jejak Pelarian Sang Pangeran Majapahit
Ketua Panitia Pelaksana, Jumadi, bersama Mudono yang membacakan sejarah singkat tradisi ini, mengungkapkan bahwa Cing cing Goling memiliki akar sejarah yang kuat dengan peristiwa bedahnya Keraton Majapahit. Alkisah, saat terjadi perang besar antara Majapahit dan Kesultanan Demak Bintara, banyak prajurit yang gugur. Prabu Brawijaya V pun terpaksa lengser dari singgasananya.

Salah satu putra dari trah Brawijaya, Raden Wisang Sanjaya, melarikan diri bersama istrinya dan dua abdi setia, Ki Tropoyo dan Ki Yudopati. Untuk menghindari pengejaran, mereka menyamar menjadi rakyat jelata dan menempuh perjalanan jauh hingga sampai di Dusun Gedangan. Di sana, mereka disambut baik oleh sesepuh desa seperti Ki Brojonolo dan Ki Honggonolo. Untuk menutupi identitas aslinya, Raden Wisang Sanjaya kemudian mengganti namanya menjadi Kiai Pisang (Gedhang)

Legenda Bendungan Kedung Dawang
Kiai Pisang (Gedhang) tidak hanya menumpang hidup, ia berkontribusi besar bagi kemakmuran warga. Bersama Ki Tropoyo dan para warga, ia membangun sebuah bendungan di Kedung Dawang. Berkat bendungan tersebut, lahan pertanian di sekitar Gedangan menjadi subur dan masyarakat pun hidup makmur.

Sebagai bentuk syukur atas keberhasilan panen dan melimpahnya sumber air, masyarakat kemudian memulai tradisi “Sedekah Bendungan”. Dalam prosesi ini, warga menyembelih ayam atau kambing sesuai dengan nazar masing-masing, yang kemudian dihaturkan dalam doa bersama atau ujub oleh juru kunci.

Tarian Tanpa Gamelan: Keunikan Cing cing Goling
Puncak dari upacara ini adalah pementasan Tari Cing cing Goling. Tarian ini sangat unik karena tidak diiringi oleh gamelan seperti tarian Jawa pada umumnya, melainkan menggunakan musik akapela yang dihasilkan dari suara para pemainnya sendiri.

Tarian ini diperankan oleh penari pria yang menggambarkan sosok Raden Wisang Sanjaya serta pembawa sesaji yang diletakkan dalam panjang ilang Pertunjukan dilakukan langsung di area sawah dan ladang. Ada kepercayaan kuat di tengah masyarakat bahwa meskipun sawah diinjak-injak oleh para penari, tanaman tidak akan rusak, melainkan justru akan menjadi semakin subur.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap keteguhan warga Gedangan dalam menjaga warisan budaya ini. Dalam sambutannya, beliau mengutip pesan Bung Karno tentang “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah).

“Jangan meninggalkan sejarahmu, karena jika engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas kekosongan,” ujar Bupati menyitir buku Di Bawah Bendera Revolusi. Bupati menekankan bahwa Cing cing Goling mengandung nilai kearifan lokal yang tinggi, terutama terkait gotong royong dan pelestarian sumber mata air yang menjadi urat nadi kehidupan petani di Gunungkidul.

Perayaan yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten dan Provinsi ini ditutup dengan doa agar masyarakat senantiasa diberikan kesejahteraan dan agar tradisi ini terus lestari sebagai jati diri bangsa di tengah arus modernisasi.

Leave Your Comment

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.