Gunungkidul- Bupati H.Sunaryanta hadiri acara upacara tradisi reresik sendang. Sendang Kecemoet yang berada di dusun Wojo Kalurahan Ngeposari Kapanewon Semanu yang masih terjaga keberadaan dan kelestarianya, dilaksanakan upacara reresik sendang, oleh pemerintah kalurahan dan karang taruna Birema dan di dukung oleh berbagai komunitas, Kamis (2/12)
Sendang yang masih lestari ini bahkan oleh warga masyarakat setempat dan sekitarnya sebelumnya menjadi tempat memenuhi kebutuhan air.
Meski saat ini masyarakat telah terfasilitasi dengan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan air melalui sambungan Rumah (SR) namun masyarakat masih mempertahankan keberadaannya sebagai bentuk pelestarian budaya peninggalan leluhur,dan menjaga kelestarian alam dengan keberadaan sumber mata air atau sering di sebut oleh masyarakat dengan sebutan sendang agar tetap terjaga keberadaanya. Dengan melakukan tradisi upacara adat reresik sendang me jadi satu cara yang dilakukan masyarakat.
Tidak hanya itu, keberadaan sendang yang juga memiliki nilai sejarah menjadi alasan untuk tetap dapat dijaga dan di lestarikan selamanya.[PIC2]
Disejarahkan oleh lurah Ngeposari Ciptadi, sumber kecemoet dipercaya oleh warga masyarakat merupakan petilasan Nyi Muluh, sebagai cikal bakal Padukuhan Semuluh.
Diawali pada tahun 1547 saat itu Kraton Majapahit di serbu pasukan dari kerajaan Demak dan akhirnya Raja Brawijaya V dan pengikutnya melarikan diri ke arah barat. Pengikut yang salah satunya seorang remaja putri bernama Ni Muluh dalam pelarianya selanjutnya sampai berada di wilayah mojo dan memutuskan untuk bersembunyi. Selanjutnya berjalanya waktu NinMulub menikah dengan Raden Mas Trenggono yang berasal dari wilayah yang saat ini bernama kalurahan Sidorejo.
Dari sejarah itulah yang dipercaya menjadi cikal bakal padukuhan Semuluh.
Keberadaan sumber mata air ini sejak tahun 1921 hingga tahun 1980 an sumber kecemoet menjadi sarana pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat setidaknya untuk 7 padukuhan diantaranya dari warga Gunungkrambil, Sidorejo, Ponjong, warga padukuhan Ketonggo, padukuhan Pokrandu, padukuham Semuluh dan masyarakat lainya.
Setelah adanya SR PDAM maka tidak di gunakan lagi namun untuk tetap menjaga keberadaannya tetap dilakukan upaya pelestarian.
Bupati H.Sunaryanta dengan dilakukan kegiatan ini sangat mengapresiasi dan mendukung sebagai upaya pelestarian.
“Esensi dari kegiatan ini adalah guyup rukun sebagai implementasi menjaga dan memperkuat dalam menumbuhkan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang berbhineka” katanya
Sementara itu Raden Mas Kukuh Hertriasning, melihat ini sebagai pegiat dan pemerhati budaya sangat mengapresiasi dengan keberadaan sumber yang masih dapat dipertahankan asri dan lestari. Gunungkidul dilihat dari sejarah yang memiliki perjalanan sejarah dan peradaban leluhur di gunungkidul Dengan banyaknya situs Gunungkidul memilik peran sebagai penyangga tradisi budaya di Yogyakarta.
“Terimakasih dengan peran masyarakat yang telah berupaya melestarikan dan mempertahankan nilai nilai budaya” ungkap Raden Mas Kukuh
Prosesi Reresik dilakukan oleh RM Kukuh dan dilajutkan doa yang di sampaikan sesepuh setempat.
Hadir dalam acara tersebut Bupati, H.Sunaryanta, RM.Kukuh Hertriasning, Panewu, Kepala Dinas Pariwisata, forkopimpan dan komunitas.[PIC1]

