Gunungkidul – Upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika terus digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Dalam sebuah apel sosialisasi yang digelar di SMA Negeri 1 Semanu, pemerintah daerah menekankan pentingnya sinergi dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) demi menyelamatkan masa depan calon pemimpin bangsa.
Dalam arahannya, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih yang bertindak sebagai Pembina Apel menekankan bahwa siswa-siswi SMA merupakan generasi penerus yang diproyeksikan menjadi pemimpin profesional, wirausahawan, maupun tokoh masyarakat yang akan membawa kemajuan bagi Gunungkidul dan Indonesia. Namun, masa depan cerah tersebut kini dihadapkan pada tantangan berat, mulai dari penyalahgunaan narkoba, kejahatan jalanan (klitih), tawuran, hingga penyebaran paham radikalisme melalui media sosial.
“Anak-anakku harus memiliki ketegasan untuk mengatakan tidak kepada narkoba, pergaulan bebas, dan aktivitas lain yang merugikan. Ini membutuhkan komitmen nyata,” tegas Bupati Endah dalam apel tersebut.
Pemerintah mencatat urgensi perlindungan remaja melalui data statistik yang cukup memprihatinkan. Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 24 kasus penyalahgunaan narkoba di wilayah tersebut. Salah satu tren yang disoroti adalah konsumsi “pil sapi” obat yang seharusnya diperuntukkan bagi hewan oleh manusia, yang menyebabkan efek halusinasi dan hilangnya produktivitas.
Selain narkoba, perhatian serius juga diberikan pada kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Data menunjukkan terdapat 53 kasus kekerasan seksual, mencakup pelecehan, pemaksaan, hingga eksploitasi yang tercatat hingga Mei 2026. Masyarakat diingatkan untuk tidak mudah tergiur iming-iming materi yang berujung pada tindakan kriminal atau amoral.


Sosialisasi ini juga menyoroti risiko pernikahan dini akibat pergaulan bebas. Fenomena ini dinilai menjadi beban sosial karena ketidaksiapan fisik dan ekonomi pasangan muda. Hal ini berdampak pada lahirnya generasi dengan masalah gizi atau stunting karena kurangnya pemenuhan nutrisi sejak dalam kandungan akibat kehamilan yang disembunyikan. Secara ekonomi, ketidaksiapan ini seringkali berujung pada ketergantungan pada bantuan pemerintah dan kemiskinan.
Di era digital, para siswa diingatkan untuk bijak dalam menggunakan teknologi. Meski internet memberikan kemudahan belajar, ketergantungan berlebih pada gawai dikhawatirkan dapat melunturkan daya ingat dan kemampuan bertahan hidup tanpa teknologi.
Siswa didorong untuk kembali aktif dalam kegiatan fisik dan organisasi seperti OSIS, Karang Taruna, atau organisasi kepemudaan lainnya untuk membangun jiwa yang sehat.
Sebagai bekal di masa depan, para siswa diberikan tiga prinsip utama untuk menjadi individu yang bernilai Ilmu (Kecerdasan), Fondasi agar tidak mudah ditipu atau diperbudak.
Kemudian Harta (Karahartan), Kemandirian ekonomi agar dapat membantu sesama dan dihormati di masyarakat, serta Jabatan (Kawisesan) Posisi strategis untuk memberikan dampak positif bagi orang banyak.
Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta tenaga pendidik ini diakhiri dengan ajakan bagi seluruh siswa untuk menjaga kesehatan fisik dengan rutin berolahraga dan menjauhi gaya hidup malas yang dipicu oleh media sosial.